Upaya penyehatan finansial di tubuh PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk (GIAA) nampaknya harus dibayar mahal dengan penurunan reputasi internasional. Di tengah ambisi transformasi dan restrukturisasi besar-besaran, maskapai pelat merah ini resmi turun kasta.
Skytrax mencabut predikat bintang 5 milik Garuda dan menurunkannya menjadi maskapai bintang 4. Penurunan ini menjadi catatan kritis bagi manajemen. Langkah efisiensi yang diambil perusahaan diduga berimbas pada tertundanya peremajaan fasilitas fisik yang kini mulai dinilai tertinggal oleh zaman.
Laporan Skytrax mengonfirmasi bahwa meski layanan awak kabin tetap unggul, aspek infrastruktur pesawat dan bandara (Jakarta serta Denpasar) sudah sangat butuh modernisasi.
“Peringkat Garuda Indonesia telah diturunkan menjadi maskapai bintang 4. Banyak produk di dalam pesawat dan fasilitas darat yang kini sudah sangat ketinggalan zaman,” tulis Skytrax dalam laman resminya, dikutip Minggu (8/3/2026).
Kondisi ini tergolong ironis karena terjadi tepat setelah perombakan jajaran direksi pada Oktober 2025 lalu. Kehadiran figur seperti Balagopal Kunduvara, veteran Singapore Airlines yang kini menjabat Direktur Keuangan, awalnya diharapkan membawa standar kelas dunia.
Namun, tantangan tumpukan beban masa lalu nampaknya membuat fokus manajemen lebih tersedot ke urusan angka ketimbang perawatan kursi dan sistem hiburan (in-flight entertainment).
Di sisi lain, mencuat narasi miring di media sosial sejak Desember 2025. Muncul tudingan bahwa perombakan manajemen Garuda ditengarai oleh Direktur Human Capital & Corporate Service, Eksitarino Irianto, sebagai dalang yang memiliki agenda tertentu untuk menyingkirkan pejabat yang tidak sejalan. Isu politik internal ini dinilai mengganggu konsentrasi perusahaan dalam menjaga marwah layanan elite.
CEO Danantara Rosan P. Roeslani menegaskan bahwa perubahan manajemen adalah langkah strategis untuk memperkuat struktur bisnis dan finansial perusahaan dari akar.
“(Danantara) sudah menaruh USD405 juta, kemudian ke depan pun kita masih akan memperkuat modalnya dengan catatan bahwa memang semua rencana dan planningnya bisa berjalan dan tereksekusi dengan baik,” ujar Rosan beberapa waktu lalu.
Rosan memandang perombakan ini sebagai langkah taktis demi daya saing jangka panjang. Namun, realita di lapangan menunjukkan bahwa suntikan modal besar dan restrukturisasi belum cukup untuk menyelamatkan wajah Garuda di mata dunia. Bagi pelanggan, daya saing bukan sekadar laporan keuangan yang sehat, melainkan kenyamanan fisik yang terjaga.














