Konsumsi RT Melejit 20 Persen, Anak Buah Airlangga Pede Ekonomi ‘Menyala’ 5,6 Persen

Konsumsi RT Melejit 20 Persen, Anak Buah Airlangga Pede Ekonomi ‘Menyala’ 5,6 Persen

Iwan Medium.jpeg

Senin, 23 Maret 2026 – 07:36 WIB

Juru Bicara Kementerian Koordinator bidang Perekonomian Haryo Limanseto.(Foto: Antara)

Juru Bicara Kementerian Koordinator bidang Perekonomian Haryo Limanseto.(Foto: Antara)

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com

+ Gabung

Di sela kegamangan menatap masa depan perekonomian global akibat perang Iran yang dikeroyok zionis Israel dan Amerika Serikat (AS), masih ada secercah harapan.

Membludaknya kendaraan yang mudik pada tahun ini, memberikan harapan baru bahwa perekonomian bakal ‘menyala’ di daerah. Apalagi, indikator makroekonomi saat Ramadan hingga Lebaran, cukup menjanjikan. Di mana, daya beli mengalami peningkatan yang cukup signifikan.

“Tingkat konsumsi rumah tangga (RT) secara konsisten melonjak di kisaran 15 persen hingga 20 persen ketimbang rataata bulan normal,” beber Juru Bicara Kemenko Perekonomian, Haryo Limanseto di Jakarta, dikutip Senin (23/3/2026).

Lonjakan konsumsi yang cukup tajam ini, kata dia, sejalan dengan tingginya mobilitas masyarakat yang berimplikasi langsung pada peningkatan kecepatan perputaran uang (velocity of money).

“Tingginya kecenderungan mengonsumsi marjinal atau marginal propensity to consume (MPC) masyarakat Indonesia pada periode perayaan ini turut memperkuat dorongan konsumsi domestik,” terangnya.

Imbasnya, Haryo mempreiksikan, pelaku UMKM di daerah akan mencatatkan akselerasi pendapatan yang signifikan, hingga 50 persen sampai 70 persen.

Dia juga memaparkan bahwa aktivitas mudik Lebaran telah terbukti menjadi instrumen penguatan ekonomi. 

Haryo merujuk pada kajian Badan Pusat Statistik (BPS) pada 2023, yang menunjukkan aktivitas perpindahan penduduk pada momen Lebaran mampu menyumbang sekitar 1,5 persen terhadap pertumbuhan ekonomi nasional secara tahunan (year on year/yoy).

Kontribusi itu didorong oleh terjadinya redistribusi aliran uang dari pusat-pusat perekonomian ke daerah. Pada gilirannya, redistribusi itu memperluas dampak ekonomi sekaligus meratakan peredaran uang di masyarakat.

“Setiap pengeluaran pemudik menciptakan efek pengganda yang memberikan dampak berlapis bagi pelaku ekonomi, termasuk UMKM, pedagang, dan sektor jasa transportasi,” kata Haryo.

Dengan perkiraan pergerakan masyarakat yang melampaui perayaan Lbaran 2025 (154,62 juta orang), belanja masyarakat tahun ini diharapkan membesar.

“Kami meyakini momentum ini akan menjadi penggerak utama target pertumbuhan ekonomi nasional yang dipatok pada level 5,5 persen hingga 5,6 persen (yoy) sepanjang 2026,” tandasnya.

Haryo menjelaskan, demi menstimulasi daya beli dan memastikan dampak ekonomi terealisasi maksimal, pemerintah telah mengeluarkan sejumlah stimulus.

Stimulus tersebut mencakup alokasi fiskal lebih dari Rp12,8 triliun, yang terdiri dari bantuan sosial senilai Rp11,92 triliun untuk 5,04 juta Keluarga Penerima Manfaat (KPM) dan diskon tarif transportasi mencapai Rp911,16 miliar.

Anak buah Menko Perekonomian Airlangga Hartarto ini menekankan pentingnya stimulus tersebut untuk menggerakkan roda ekonomi, mengingat porsi konsumsi rumah tangga mendominasi sekitar 53 persen, hingga 54 persen dari total produk domestik bruto (PDB) Indonesia.

Selain itu, pemerintah juga mengeluarkan kebijakan work from anywhere (WFA) bagi Aparatur Sipil Negara (ASN) agar memperpanjang durasi tinggal pemudik di daerah asal. Dengan demikian, pemudik memiliki ruang belanja yang lebih luas sehingga mempercepat laju perputaran uang di daerah selama periode Idul Fitri 2026. 
 

Google

Tambahkan Inilah.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.

Tambahkan Sekarang

Visited 7 times, 1 visit(s) today