Pekerja menyelesaikan produksi kain sarung di pabrik tekstil Kawasan Industri Majalaya, Kabupaten Bandung, Jawa Barat. (Foto: ANTARA/Raisan Al Farisi/wsj/aa).
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com
Tersungkurnya nilai tukar (kurs) rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) membuat industri semakin sulit berkembang. Termasuk industri tekstil dan produk tekstil (TPT), yang ketar-ketir karena bengkaknya biaya produksi dan pelemahan daya beli.
Ketua Umum Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API), Jemmy Kartiwa di Jakarta, dikutip Senin (27/4/2026), mengaku berat lantaran lemahnya kurs rupiah hingga di atas level psikologis Rp17.000/US$. Sebab, sebagian besar biaya bahan baku dan logistik berbentuk dolar AS.
“Sekiranya pelemahan rupiah terus terjadi, dalam jangka pendek dan menengah akan mendorong kenaikan harga-harga konsumen, karena bahan baku dan biaya logistik juga menjadi lebih mahal. Ini bisa mengakibatkan perputaran ekonomi di sektor riil menurun,” ujar Jemmy.
Pasar domestik tekstil dan garmen, kata dia, menghadapi tekanan, terutama akibat penurunan belanja pemerintah dan kenaikan biaya rantai pasok. Industri dalam negeri juga dihadapkan pada persaingan ketat dengan produk impor, baik legal maupun ilegal.
“Harga produk domestik masih tertinggal dibandingkan produk impor. Kepentingan terkait supply biaya produksi menjadi prioritas untuk dilakukan. Anjloknya daya beli berdampak langsung pada konsumsi tekstil dan garmen,” tegas dia.
Jemmy menekankan stabilitas nilai tukar menjadi faktor krusial dalam menjaga struktur biaya industri TPT. Selain itu, peningkatan permintaan domestik dinilai dapat didorong melalui optimalisasi belanja pemerintah, khususnya dengan memprioritaskan pengadaan produk dalam negeri.
“Sehingga bisa mendongkrak kinerja tekstil garmen di level kecil menengah juga,” terangnya.
Namun demikian, lanjutnya, API mengapresiasi sinergi antara Kementerian Perindustrian (Kemenperin) dan Kementerian Perdagangan (Kemendag) dalam mendorong industri padat karya melalui berbagai regulasi baru. “Asosiasi menilai upaya perlindungan pasar domestik tetap harus diperkuat untuk menjaga keberlangsungan industri dan penyerapan tenaga kerja,” imbuhnya.
Ke depan, kata dia, API berharap pemerintah bersama Bank Indonesia (BI) dapat merumuskan strategi untuk meredam fluktuasi kurs rupiah guna menjaga stabilitas biaya bahan baku impor, seperti kapas dan serat sintetis, serta mencegah lonjakan biaya operasional industri.
Pada awal 2026 ini, kinerja ekspor TPT menunjukkan tren positif. Tahun lalu, ekspor TPT tumbuh 3,55 persen dengan nilai mencapai US$12,08 miliar, mencatatkan surplus neraca perdagangan sebesar US$3,45 miliar. Produk pakaian jadi masih mendominasi ekspor.
Kuartal I-2026, investasi di sektor TPT tercatat sebesar Rp20,23 triliun dan menyerap hampir 4 juta tenaga kerja. Indeks kepercayaan industri TPT berada di level 51,86 per Maret 2026, menandakan fase ekspansi.
Saat ini, kata dia, pelaku industri masih menghadapi ketidakpastian terkait perjanjian perdagangan Indonesia–Amerika Serikat, khususnya terkait penerapan tarif nol persen untuk produk tekstil.
Namun demikian, ekspor TPT terbuka lebar lewat kerja sama perdagangan Indonesia–European Union Comprehensive Economic Partnership Agreement (I-EU CEPA), khususnya untuk pasar Kanada dan Eurasia.
Tambahkan Inilah.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.














