Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa di Kementerian Keuangan, Jakarta, Jumat (5/6/2026). (Foto: Inilah.com/ Clara Anna S)
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyampaikan perkembangan investigasi 10 perusahaan minyak sawit yang diduga melakukan transfer pricing dan under invoicing. Purbaya menyebut masih menunggu hasil penelusuran praktik tersebut dari Kejaksaan Agung (Kejagung). Dia mengatakan pihak Kejagung telah memulai investigasi sejak minggu lalu.
“Yang di Kejaksaan itu masih kita tunggu berita dari Kejaksaan yang jelas minggu lalu mereka mulai jalan,” ujar Purbaya, di Kementerian Keuangan, Jakarta, Jumat (5/6/2026).
Bendahara negara itu pun mengatakan bahwa Kejagung memerlukan waktu untuk menelusuri dugaan tersebut.
“Jadi saya belum dapat beritanya. Tapi kan biasanya perlu waktu kan,” katanya.
Sebelumnya, Purbaya memenuhi panggilan Presiden Prabowo Subianto di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, Kamis (21/5/2026). Tak datang dengan tangan kosong, Bendahara Negara ini kedapatan memboyong dokumen berisi daftar 10 perusahaan besar yang diduga kuat melakukan praktik under invoicing atau manipulasi faktur perdagangan ekspor.
Hasil Uji Petik
Purbaya membeberkan, laporan yang dibawanya merupakan hasil uji petik (check sound) yang dilakukan jajarannya secara acak terhadap tiga pengapalan dari 10 perusahaan besar tersebut. Seluruh korporasi yang masuk dalam daftar hitam ini bergerak di sektor industri mentereng, yakni kelapa sawit (crude palm oil/CPO).
Dari dokumen yang dibacanya di hadapan wartawan, modus yang digunakan perusahaan-perusahaan tersebut sangat vulgar. Mereka sengaja mencantumkan nilai harga ekspor yang jauh lebih rendah ketimbang nominal asli yang dibayarkan oleh pihak pengimpor di Amerika Serikat (AS).
“Mereka kelihatan sekali melakukan manipulasi harga ekspor ke Amerika Serikat. Cukup signifikan tuh ya,” kata Purbaya sembari mencermati dokumen di tangannya.
Akibat selisih angka yang timpang tersebut, potensi penerimaan negara dari sektor pajak dan devisa langsung merosot tajam. “Jadi harganya di sini berapa, itu cuma seperempat atau sepertiga apa yang ada di AS. Jadi income-nya rendah kan. Di sini kita rugi banyak,” sesalnya.
Meskipun masih merahasiakan nama-nama dari 10 korporasi kakap tersebut, Purbaya memberikan bocoran salah satu bukti kejanggalan transaksi yang berhasil diendus oleh Kementerian Keuangan.
Pada kasus pertama, sebuah perusahaan tercatat hanya melaporkan nilai ekspor sebesar US$2,6 juta. Padahal, dokumen internal pengimpor di AS menunjukkan angka riil yang dibayarkan mencapai US$4,2 juta. Ada jurang selisih sebesar 57 persen yang disembunyikan.
Tak berhenti di situ, Purbaya juga mengungkap temuan lain yang jauh lebih ekstrem dari perusahaan kelapa sawit berbeda.
“Ada yang lebih gila lagi, satu perusahaan lagi di sini ekspornya US$1,44 juta, di sana (nilai impornya) US$4 jutaan. Berubah harganya 200 persen. Kita mau deteksi kapal per kapal, jadi itu yang saya laporkan kalau ditanya,” pungkas Purbaya tegas.
Tambahkan Inilah.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.












