Jangan Kaget Jika Ginjal ‘Mogok’ Akibat Kebiasaan yang Dianggap Biasa

Jangan Kaget Jika Ginjal ‘Mogok’ Akibat Kebiasaan yang Dianggap Biasa

Ibnu Medium.jpeg

Senin, 22 Juni 2026 – 13:43 WIB

(Foto: Ilustrasi Istockphoto)

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com

+ Gabung

Hipertensi atau tekanan darah tinggi yang tidak terkontrol dalam jangka panjang dapat memicu berbagai komplikasi serius, mulai dari gangguan fungsi ginjal hingga peningkatan risiko serangan jantung dan stroke.

Dokter spesialis penyakit dalam Rumah Sakit Universitas Indonesia (RSUI), dr. Anindia Larasati, mengatakan salah satu organ yang paling rentan terdampak hipertensi adalah ginjal karena memiliki banyak pembuluh darah berukuran kecil.

“Pembuluh darah ginjal itu kecil-kecil. Jadi, kalau tekanan darah cenderung tinggi terus-menerus, pembuluh darah di ginjal akan menjadi kaku dan keras sehingga dapat menyebabkan gangguan atau penurunan fungsi ginjal,” kata Anindia di Jakarta, Senin (22/6) dikutip dari Antara.

Menurutnya, tekanan darah tinggi yang berlangsung dalam waktu lama juga dapat menyebabkan pembuluh darah di jantung mengalami kekakuan. Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular seperti serangan jantung dan stroke.

Anindia menjelaskan, komplikasi hipertensi tidak selalu muncul dalam waktu singkat. Pada penderita hipertensi yang masih berusia muda, dampaknya bisa baru dirasakan setelah 20 hingga 25 tahun apabila tekanan darah tidak dikendalikan dengan baik.

“Komplikasinya mungkin baru akan dijumpai dalam jangka panjang, bisa 20 sampai 25 tahun ke depan bila tekanan darah tidak terkontrol,” ujarnya.

Secara medis, seseorang dikategorikan mengalami hipertensi apabila memiliki tekanan darah 140/90 mmHg atau lebih tinggi secara konsisten.

Ia menambahkan, gejala hipertensi pada usia muda sering kali sulit dikenali karena kondisi pembuluh darah masih relatif elastis. Akibatnya, banyak penderita yang tidak menyadari dirinya mengalami tekanan darah tinggi hingga muncul keluhan yang lebih berat.

“Gejala yang muncul mungkin seperti nyeri kepala, pusing yang tidak hilang dengan obat penghilang sakit kepala, mual, atau sampai muntah,” kata Anindia.

Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa hipertensi merupakan penyakit multifaktorial yang dipengaruhi banyak faktor, termasuk keturunan dan gaya hidup.

Meski memiliki riwayat keluarga dengan hipertensi, seseorang tetap dapat menurunkan risiko terkena penyakit tersebut melalui pola hidup sehat. Langkah yang disarankan antara lain rutin berolahraga, membatasi konsumsi garam, menjaga berat badan ideal, dan menghindari kebiasaan merokok.

“Kalau anaknya rajin berolahraga, diet rendah garam, menjaga berat badan, tidak merokok, maka masih ada kemungkinan bahwa anaknya tidak akan menderita hipertensi walaupun orang tuanya memiliki riwayat hipertensi,” jelasnya.

Google

Tambahkan Inilah.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.

Tambahkan Sekarang

Visited 1 times, 1 visit(s) today