Aktif bertransaksi secara online, kelompok usia produktif kini menjadi sasaran empuk penipuan digital yang memanfaatkan modus phishing hingga AI. (Foto: Pintu)
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com
Ancaman kejahatan siber di Indonesia kini makin tereskalasi dengan memanfaatkan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) dan memanipulasi psikologis korban. Menghadapi situasi tersebut, kolaborasi lintas sektor yang melibatkan pemerintah pusat, daerah, lembaga keuangan, hingga pelaku industri teknologi mutlak diperlukan.
Guna merapatkan barisan dalam menanggulangi ancaman tersebut, Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) menggelar “Festival Aman Digital 2026” di Balai Kota DKI Jakarta. Forum yang mengusung tema “Kolaborasi Lintas Sektor Guna Mensukseskan Literasi Keamanan Siber Nasional” ini turut dihadiri oleh Asosiasi Blockchain Indonesia (ABI) yang diwakili oleh PINTU.
Kepala Dinas Komunikasi, Informatika, dan Statistik Provinsi DKI Jakarta, Marulina Dewi, menyoroti pergeseran tren serangan siber yang kini lebih mengarah pada eksploitasi manusia.
“Serangan siber hari ini bukan lagi sekadar soal sistem yang down, melainkan sudah menyasar sisi psikologis manusia melalui social engineering (rekayasa sosial), kebocoran data pribadi, hingga maraknya disinformasi,” tegas Marulina dalam sambutannya.
Usia Produktif Jadi Sasaran Utama
Dalam kesempatan yang sama, Deputi Direktur Departemen Perlindungan Konsumen Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sekaligus Sekretariat Satgas PASTI, Daniel Apriandi, memaparkan fakta krusial terkait demografi korban kejahatan siber.
“Kelompok usia 25–49 tahun adalah yang paling produktif sekaligus paling banyak disasar penipu, karena mereka yang paling aktif bertransaksi secara digital. Scam (penipuan) dengan modus phishing dan social engineering terus meningkat, diperparah dengan penggunaan AI dan deep fake yang kini mampu meniru wajah, suara, dan bahasa tubuh korban secara sempurna,” ungkap Daniel.
Merespons masifnya ancaman tersebut, Direktur Operasi Keamanan dan Pengendalian Informasi BSSN, Satryo Suryantoro, menggaungkan gerakan nasional 90 hari literasi keamanan siber. Ia menekankan bahwa keberhasilan literasi siber tidak dapat diwujudkan oleh satu institusi, melainkan menuntut keterlibatan aparat penegak hukum, dunia usaha, media, hingga masyarakat luas.
Dari sisi pelaku industri aset digital, Anggota Departemen Advokasi Strategis ABI sekaligus Public Policy & Government Relations Manager PINTU, Deny Giovanno, menyatakan komitmen organisasinya dalam mengedukasi masyarakat. Salah satu inisiatif yang terus digulirkan adalah kampanye “Bulan Literasi Kripto” yang telah berjalan sejak 2023 bersama OJK.
“Berbagai inisiatif program literasi dan edukasi yang kami galakkan ini merupakan komitmen bersama untuk meningkatkan daya kritis masyarakat Indonesia dalam menghadapi berbagai bentuk penipuan di era digital,” ujar Deny.
Ia menambahkan, partisipasi ABI dalam Festival Aman Digital 2026 menjadi penegas komitmen industri dalam memastikan masyarakat dapat memanfaatkan teknologi blockchain dan aset kripto secara aman, bijak, dan bertanggung jawab.
Tambahkan Inilah.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.













