Kehadiran jaringan internet di Desa Bainaa Barat, Sulawesi Tengah, mengubah aktivitas masyarakat yang sebelumnya harus menempuh perjalanan jauh hanya untuk mendapatkan sinyal telekomunikasi.
Kepala Desa Bainaa Barat Yuslan mengatakan, sebelum jaringan internet tersedia, masyarakat kesulitan berkomunikasi dengan keluarga maupun mengakses informasi dari luar desa. Dalam kondisi tertentu, warga bahkan harus menempuh perjalanan sekitar 30 kilometer untuk mendapatkan sinyal.
Kondisi tersebut menjadi persoalan ketika warga membutuhkan informasi penting, termasuk terkait kondisi keluarga yang berada di daerah lain.
“Biasanya ada keluarga dari Bainaa Barat untuk bisa menghubungi atau melihat keluarganya mungkin dalam kondisi sakit di tempat lain. Itu biasanya mereka harus pergi jauh,” ujar Yuslan dalam BAKTI Media Connect 2026, Rabu (12/8/2026).
Menurut dia, keterbatasan konektivitas juga membuat masyarakat kesulitan memperoleh informasi mengenai berbagai kebijakan pemerintah dan perkembangan di luar desa.
Padahal, Desa Bainaa Barat memiliki potensi sumber daya alam yang cukup besar. Masyarakat setempat mengandalkan sejumlah komoditas seperti cengkeh, kelapa, ubi, serta hasil pertanian lainnya.
Internet BAKTI Buka Akses Informasi Warga Desa
Namun, keterbatasan informasi membuat masyarakat tidak selalu memiliki pengetahuan yang cukup mengenai kondisi pasar dan harga komoditas. Hal tersebut pada akhirnya dapat memengaruhi posisi masyarakat ketika menjual hasil pertanian.
Kehadiran jaringan internet kemudian membuka akses masyarakat terhadap informasi yang sebelumnya sulit diperoleh.
Yuslan mengatakan, masyarakat kini dapat mengetahui berbagai informasi secara lebih cepat. Warga juga lebih mudah berkomunikasi dengan pemerintah maupun mengakses informasi dari tingkat pemerintahan yang lebih tinggi.
Menurutnya, keterbukaan informasi tersebut membuat masyarakat memiliki pengetahuan yang lebih luas mengenai berbagai persoalan yang berkaitan dengan kehidupan mereka.
“Setelah adanya jaringan internet, mereka sudah bisa mendapatkan informasi. Mereka sudah tahu informasi dari pemerintah dan bisa langsung mengakses pemerintahan yang lebih tinggi,” katanya.
Akses internet juga membuat masyarakat lebih mudah memperoleh informasi terkait kondisi keluarga di luar desa, pendidikan, hingga berbagai informasi yang dibutuhkan untuk aktivitas sehari-hari.
Warga Mulai Pasarkan Produk UMKM Lewat Media Sosial
Perubahan juga mulai dirasakan pelaku usaha di desa. Internet memberikan ruang bagi masyarakat untuk memasarkan produk melalui media sosial.
Yuslan mencontohkan pelaku usaha yang sebelumnya hanya mengandalkan penjualan secara langsung. Setelah mendapatkan akses internet, mereka dapat memotret produk, mengunggahnya ke media sosial, kemudian menawarkan produk tersebut kepada calon pembeli.
“Biasanya kami foto, kemudian diposting. Jadi lebih mudah untuk mendapatkan makanan yang dibuat, kemudian dijual. Mereka posting di media sosial,” ujarnya.
Menurut Yuslan, pola tersebut memberikan peluang baru bagi masyarakat untuk memperluas pasar. Produk yang sebelumnya hanya dikenal oleh masyarakat sekitar kini dapat diperkenalkan melalui media sosial.
Ia menilai keberadaan internet pada akhirnya tidak hanya berkaitan dengan kemudahan komunikasi, tetapi mulai memberikan pengaruh terhadap aktivitas ekonomi masyarakat.
“Ekonomi masyarakat pun juga jadi lebih maju,” kata Yuslan.
1.415 Jiwa Kini Lebih Mudah Terhubung
Desa Bainaa Barat sendiri memiliki sekitar 1.415 jiwa dengan 417 kepala keluarga. Sebelum konektivitas tersedia, masyarakat harus menghadapi keterbatasan akses komunikasi akibat kondisi geografis wilayah tersebut.
Kehadiran infrastruktur telekomunikasi BAKTI menjadi bagian dari upaya membuka akses komunikasi di wilayah yang sebelumnya mengalami keterbatasan jaringan.
Bagi masyarakat desa, perubahan tersebut terasa dalam aktivitas sehari-hari. Komunikasi dengan keluarga menjadi lebih mudah, informasi dapat diperoleh lebih cepat, sementara pelaku usaha mendapatkan saluran baru untuk memasarkan produknya.
Meski demikian, pemanfaatan internet di Bainaa Barat juga menyisakan pekerjaan lanjutan. Akses jaringan perlu diikuti dengan peningkatan kemampuan masyarakat dalam memanfaatkan teknologi digital, terutama untuk kegiatan ekonomi yang dapat meningkatkan nilai tambah hasil produksi desa.
Dengan demikian, keberhasilan pembangunan konektivitas tidak hanya diukur dari masuknya sinyal ke wilayah yang sebelumnya blank spot. Tantangan berikutnya adalah memastikan akses tersebut benar-benar dimanfaatkan masyarakat untuk pendidikan, pelayanan publik, komunikasi, dan peningkatan ekonomi.










