Roket SpaceX Elon Musk bakal Hantam Bulan Kamis Pagi, Begini Skenarionya

Roket SpaceX Elon Musk bakal Hantam Bulan Kamis Pagi, Begini Skenarionya

Sisa potongan roket Falcon 9 milik perusahaan antariksa Elon Musk, SpaceX, diprediksi bakal menabrak permukaan Bulan pada Kamis (6/8/2026) pagi sekitar pukul 07:09 WIB (atau 5 Agustus pukul 02:44 ET).

Puing raksasa yang bakal menghantam satelit alami Bumi tersebut merupakan bagian atas roket (upper stage) berkode 2025-010D. Komponen ini dulunya dipakai saat meluncurkan dua wahana pendarat Bulan, yakni Blue Ghost milik Firefly dan Hakuto-R milik ispace, pada 15 Januari 2025 lalu.

Kabar soal calon tumbukan antariksa ini pertama kali diungkap oleh Bill Gray, peneliti independen sekaligus pembuat perangkat lunak pemantau benda langit, Project Pluto. Gray dan timnya terus melacak pergerakan sisa peluncuran tersebut sejak awal mengangkasa.

“Beberapa kali, benda itu melintas dekat Bulan dan Bumi, namun tidak cukup dekat untuk kemungkinan terjadi tumbukan,” kata Gray seperti dikutip dari Ars Technica.

Meluncur Kecepatan 2,43 Km per Detik di Kawah Einstein

Setelah mengumpulkan setidaknya 1.053 data pengamatan hingga akhir Februari 2026, Gray mengalkulasi bahwa orbit roket Falcon 9 tersebut akhirnya mengarah tepat ke garis edar Bulan.

Objek berbahan logam tebal itu diperkirakan akan menghantam area di dekat Kawah Einstein Bulan dengan kecepatan dahsyat mencapai 2,43 kilometer per detik.

Lantaran Bulan sama sekali tidak memiliki lapisan atmosfer untuk mengikis atau membakar objek yang jatuh, potongan roket dipastikan bakal menabrak permukaan dalam kondisi utuh. Kendati demikian, Gray menenangkan bahwa dampak benturan ini tidak akan memicu ledakan katastrofik.

Dampak tumbukan diprediksi hanya meninggalkan bekas berupa kawah kecil di permukaan Bulan tanpa menimbulkan kerusakan berantai. Bahkan, saking kecilnya energi benturan yang dihasilkan, peristiwa ini diperkirakan sulit teramati oleh teleskop biasa dari Bumi.

Bukan Pertama Kali, Tapi Sinyal Bahaya Misi Masa Depan

Peristiwa roket buatan manusia ‘menyasar’ ke Bulan sejatinya bukan hal baru bagi Gray. Sebelumnya, ia juga pernah menghitung akurat jalur jatuh tahap kedua roket Falcon 9 lain yang akhirnya menghempas sisi jauh Bulan.

Meski tabrakan kali ini dipastikan aman dan tidak membahayakan Bumi, fenomena tertinggalnya sampah antariksa berukuran jumbo di orbit Bumi-Bulan mulai memicu alarm kewaspadaan para peneliti internasional.

Masalah ini bisa bertambah rumit dalam beberapa tahun ke depan, mengingat lembaga antariksa AS (NASA) dan pemerintah China tengah gencar menyiapkan misi pembangunan pos atau pangkalan permanen di wilayah Kutub Selatan Bulan.

Rencana ambisius tersebut dipastikan bakal melipatgandakan frekuensi peluncuran roket dari Bumi untuk mengangkut wahana penjelajah (rover), pasokan logistik, hingga perangkat komunikasi. Jika lalu lintas roket makin padat tanpa penanganan sampah yang benar, risiko benturan tak disengaja akan jauh lebih tinggi.

Solusi Sampah Antariksa: Dibuang ke Orbit Matahari

Menyikapi makin padatnya ‘sampah’ roket di ruang angkasa, para pakar penerbangan antariksa mendesak para operator peluncuran untuk menerapkan prosedur pembuangan yang lebih aman dan bertanggung jawab.

Seperti diulas Ars Technica, salah satu solusi paling rasional ke depan adalah mengarahkan sisa pendorong atau bagian atas roket (upper stage) ke jalur buang khusus yang jauh dari zona gravitasi Bumi maupun Bulan.

Sisa-sisa roket idealnya didorong masuk ke orbit heliosentris –yakni mengelilingi Matahari– sehingga tidak lagi berpotensi melayang liar di orbit Bumi-Bulan dan memicu insiden serupa di masa mendatang.

Visited 1 times, 1 visit(s) today