Turki Rayu Mesir Gabung Pakta Pertahanan Mekkah

Turki Rayu Mesir Gabung Pakta Pertahanan Mekkah

Aliansi militer baru berkonsep pertahanan kolektif di Timur Tengah berpotensi kian gemuk. Menteri Luar Negeri Turki Hakan Fidan, memberi sinyal kuat bahwa Mesir bakal menyusul langkah Arab Saudi, Pakistan, dan Turki untuk bergabung dalam Pakta Pertahanan Bersama Mekkah (Mecca Joint Defence Agreement).

Fidan meyakini, bergabungnya Kairo ke dalam panggung aliansi mirip NATO tersebut hanya tinggal menunggu waktu. Keterlibatan Mesir dinilai sangat krusial untuk meredam gejolak keamanan kawasan akibat imbas perang antara Amerika Serikat (AS) dan Iran.

“Saya yakin bahwa pada tahap berikutnya, Mesir juga akan bergabung dengan kami dalam aliansi ini. Kami sudah saling bertindak seolah-olah kami adalah anggota aliansi,” ujar Fidan kepada Anadolu Agency, seperti dikutip Minggu (9/8/2026).

Mesir Mitra Alami, Tinggal Selesaikan Masalah Teknis

Fidan menyebut Mesir sebagai ‘mitra alami dalam segala hal’ bagi aliansi Makkah. Menurutnya, tidak ada hambatan prinsipil yang menghalangi Kairo untuk merapat ke dalam barisan pertahanan ini.

“Ada beberapa masalah teknis. Begitu hal-hal tersebut diselesaikan, tidak ada alasan bagi Mesir untuk tidak menjadi bagian darinya,” tegas Fidan.

Meski begitu, ia menekankan bahwa pembentukan pakta militer ini tidak dirancang untuk menargetkan negara atau kekuatan tertentu di kawasan. Dokumen kesepakatan tersebut murni berfokus pada stabilitas dan perlindungan bersama.

“Tidak ada ancaman bersama yang kami cantumkan secara tertulis,” tambahnya.

Ambisi Memperluas Payung Pertahanan Kawasan

Pakta Pertahanan Makkah sendiri resmi ditandatangani oleh pimpinan Arab Saudi, Turki, dan Pakistan di Kota Suci Mekkah pada Jumat (7/8/2026). Kementerian Luar Negeri Pakistan menegaskan, pakta ini mengusung doktrin pertahanan kolektif: serangan terhadap satu negara anggota bakal dianggap sebagai serangan langsung bagi seluruh anggota guna memperkuat daya tangkal bersama.

Langkah ini dipandang Fidan sebagai fondasi paling krusial dalam menciptakan stabilitas jangka panjang di Timur Tengah. Bahkan, Ankara mengisyaratkan aliansi ini tidak akan berhenti di tiga atau empat negara saja.

“Berdasarkan visi presiden kami (Recep Tayyip Erdogan), kita tidak boleh hanya terbatas pada tiga negara. Kita harus berkembang dan, jika perlu, merangkul semua negara di bawah payung ini,” tutur Fidan.

Imbas Panas Perang AS-Iran ke Laut Merah

Kehadiran aliansi militer ini lahir di tengah eskalasi perang terbuka antara AS dan Iran yang kian merembet. Konflik bersenjata tersebut tak hanya melumpuhkan jalur pelayaran strategis di Selat Hormuz dan Laut Merah, tetapi juga menyeret negara-negara tetangga.

Peningkatan tensi ini turut membakar keberanian kelompok milisi di kawasan. Milisi Houthi di Yaman serta Iran tercatat semakin gencar melancarkan serangan ke wilayah Arab Saudi.

Bahkan, imbas konflik telah merembet langsung ke kedaulatan Mesir. Sebuah serangan drone baru-baru ini menghantam aset militer AS yang berada di salah satu pelabuhan Mesir di Laut Tengah.

Kondisi serba genting inilah yang mendorong negara-negara kekuatan utama dunia Islam merapatkan barisan, guna memastikan kawasan tidak semakin terseret ke dalam jurang perang yang lebih luas.

Visited 2 times, 2 visit(s) today