Krisis tata kelola sepak bola dunia memasuki babak baru. Konfederasi sepak bola Asia (AFC), Eropa (UEFA), dan Amerika Utara, Tengah, serta Karibia (Concacaf) secara bersama-sama melayangkan surat terbuka kepada FIFA terkait kontroversi proyek FIFA Forward Enterprise (FFE).
Surat tersebut menjadi bentuk penolakan keras terhadap rencana FIFA yang sempat membuka peluang masuknya investor swasta ke dalam perusahaan yang akan mengelola hak komersial kompetisi FIFA, termasuk Piala Dunia.
FIFA sebelumnya mengumumkan FFE pada 28 Juli 2026. Dalam proposal tersebut, FIFA berencana membentuk perusahaan dengan valuasi sekitar 20 miliar dolar AS dan menawarkan kepemilikan minoritas kepada investor eksternal untuk menghimpun hingga 4,2 miliar dolar AS. FIFA menyatakan tetap mempertahankan kendali atas perusahaan dan seluruh keputusan olahraga.
Namun, rencana tersebut langsung mendapat penolakan dari sejumlah konfederasi dan asosiasi sepak bola. FIFA kemudian membatalkan proposal tersebut pada akhir Juli setelah menyadari proyek itu telah memicu perpecahan di antara keluarga sepak bola dunia.
Bukan Sekadar Masalah Komunikasi
AFC, UEFA, dan Concacaf menilai persoalan FFE tidak bisa ditutup hanya dengan menyebutnya sebagai kegagalan komunikasi.
Ketiga konfederasi menilai terdapat persoalan yang jauh lebih mendasar, yakni proses pengambilan keputusan dan tata kelola FIFA.
“Sepak bola adalah milik para pemain, suporter, klub, asosiasi anggota, serta setiap institusi yang dipercaya menjaga masa depannya,” demikian isi surat bersama tersebut.
Mereka menilai kepemimpinan organisasi sepak bola dunia seharusnya merupakan bentuk pengabdian kepada seluruh keluarga sepak bola, bukan keputusan yang dibuat untuk kepentingan kelompok atau individu tertentu.
“Ketika kepercayaan dihancurkan melalui penipuan, ketika seseorang menempatkan dirinya di atas kolektif yang telah memberinya kewenangan, maka tugas pengabdian tersebut telah ditinggalkan,” tulis AFC, UEFA, dan Concacaf.
Soroti Proses Pengambilan Keputusan
Ketiga konfederasi juga mempertanyakan bagaimana proyek FFE dapat diajukan tanpa melalui proses tata kelola yang menurut mereka semestinya dilakukan.
FIFA sebelumnya menjelaskan bahwa FFE merupakan perusahaan yang sepenuhnya dikendalikan FIFA. Investor hanya akan memperoleh kepemilikan minoritas dan tidak memiliki kendali atas keputusan olahraga, regulasi, kalender pertandingan, maupun tata kelola sepak bola.
Namun, persoalan utama bagi AFC, UEFA, dan Concacaf adalah proses menuju proposal tersebut.
Mereka menyoroti pertemuan pimpinan FIFA di Maroko yang disebut hanya melibatkan sejumlah anggota komite manajemen, tanpa kehadiran anggota Dewan FIFA maupun asosiasi anggota.
Menurut mereka, pola tersebut justru memperkuat kekhawatiran mengenai transparansi dan mekanisme pengambilan keputusan di tubuh FIFA.
Tekanan terhadap Gianni Infantino
Kontroversi FFE kini berkembang menjadi persoalan kepemimpinan Gianni Infantino.
UEFA, AFC, dan Concacaf menilai persoalan tersebut menunjukkan adanya keretakan kepercayaan terhadap Presiden FIFA. Dalam perkembangan terbaru, ketiga konfederasi bahkan secara terbuka menekan Infantino untuk mempertanggungjawabkan kepemimpinannya, termasuk seruan agar ia mengundurkan diri.
Mereka juga menyerukan adanya peninjauan independen terhadap proses yang melahirkan proposal FFE.
“Ada keheningan ketika seharusnya ada pertanggungjawaban. Ada jarak ketika seharusnya ada keterbukaan. Itu bukanlah kualitas yang layak dimiliki oleh kepemimpinan sepak bola,” tulis mereka.
Piala Dunia Jadi Titik Perselisihan
Polemik ini memiliki dimensi besar karena menyangkut Piala Dunia, kompetisi sepak bola paling bernilai secara komersial di dunia.
Dalam proposal FFE, FIFA ingin mengonsolidasikan hak siar, sponsor, tiket, lisensi, serta operasional penyelenggaraan kompetisi ke dalam satu entitas komersial. FIFA berargumen langkah tersebut dapat meningkatkan pendanaan pengembangan sepak bola bagi 211 asosiasi anggotanya.
Namun, pihak yang menentang menilai kepemilikan komersial atas aset sebesar itu tidak boleh dilakukan tanpa proses konsultasi dan persetujuan yang transparan.
Terlebih, Piala Dunia 2030 akan menjadi edisi ke-100 tahun sejak turnamen pertama digelar pada 1930.
Ancaman Perpecahan Sepak Bola Dunia
Perselisihan ini kini berpotensi berkembang lebih jauh. UEFA, AFC, dan Concacaf telah mulai membicarakan kemungkinan menggelar kompetisi alternatif jika konflik dengan FIFA terus membesar. UEFA bahkan telah mengambil langkah boikot terhadap salah satu agenda FIFA sebagai bentuk tekanan.
Di sisi lain, belum seluruh konfederasi mengambil posisi yang sama. CAF dan CONMEBOL disebut masih memberikan dukungan kepada Infantino, sementara sebagian besar asosiasi anggota FIFA belum secara terbuka menarik dukungan mereka.
Situasi tersebut membuat persoalan FFE tidak lagi sebatas proyek komersial yang dibatalkan. Konflik ini telah berubah menjadi pertarungan mengenai siapa yang berhak menentukan arah sepak bola dunia dan bagaimana kekuasaan FIFA harus dijalankan.
AFC, UEFA, dan Concacaf menutup surat mereka dengan seruan agar persatuan dalam sepak bola dihormati dan kepemimpinan FIFA kembali berorientasi pada pelayanan terhadap sepak bola, bukan penguasaan atas sepak bola.














