Ketika Daya Beli Melempem: Diam-diam Raja Ritel Filipina O!Save Tumbuh Pesat di Jakarta

Ketika Daya Beli Melempem: Diam-diam Raja Ritel Filipina O!Save Tumbuh Pesat di Jakarta

Iwan Medium.jpeg

Selasa, 11 Agustus 2026 – 21:12 WIB

Salah satu gerai O!Save, ritel asal Filipina yang tumbuh pesat di sejumlah kota besar di Indonesia. (Foto: Dok O!Save).

Salah satu gerai O!Save, ritel asal Filipina yang tumbuh pesat di sejumlah kota besar di Indonesia. (Foto: Dok O!Save).

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com

+ Gabung

Pelan tapi pasti, gerai O!Save bertumbuh pesat di tanah air. Khususnya di kota-kota besar seperti Jakarta, Tangerang, Bandung hingga Surabaya. Untuk Jakarta saja, gerai O!Save diperkirakan sudah mencapai 37 unit.

Deputi Bidang Usaha Menengah Kementerian Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM), Bagus Rachman menilai, kehadiran O!Save tak perlu terlalu dikhawatirkan. Karena, kata Bagus, industri ritel di Indonesia, sudah cukup kuat. Sehingga tidak perlu mengkhawatirkan kehadiran raja ritel asal Filipina itu.

“Belum tahu, nanti kita lihat. Kan ada KPPU (Komisi Pengawas Persaingan Usaha) juga,” kata Bagus di Kementerian Perdagangan (Kemendag), Jakarta, Selasa (11/8/2026).

Bagus menyatakan, pemerintah masih memantau perkembangan O!Save. Selain itu, peran KPPU sebagai ‘wasit’ persaingan usaha yang sehat, sangat menentukan.

Di mana, O!Save mengadopsi konsep hard discount dengan toko sederhana, tanpa perlu sewa lokasi yang mahal, menawarkan harga terendah setiap hari tanpa promo khusus.

Untuk membuka gerai O!Save, perusahaan mewajibkan luas lantai satu minimal 250 meter persegi, lokasi komersial seluas minimal 350 meter persegi, serta tanah kosong siap sewa dengan luas minimal 450 meter persegi.

Selain itu, lokasi gerainya harus berada di dalam atau dekat dengan wilayah perdagangan, pusat komunitas, atau pemukiman. Dan, memiliki fasad (sisi luar toko) yang lebar atau fasilitas parkir yang memadai.

Daya Beli Ambruk

Sebelumnya, Himpunan Peritel dan Penyewa Pusat Perbelanjaan Indonesia (Hippindo) mengungkapkan meski penjualan ritel terus meningkat, keuntungan peritel justru semakin tipis.

Ketua Umum Hippindo, Budihardjo Iduansjah mengatakan, pelaku usaha ritel, saat ini, harus membuat berbagai program diskon untuk menarik pembeli. Lantaran, daya beli masyarakat mengalami pelemahan. Di sisi lain, biaya produksi naik diterpa anjloknya nilai tukar rupiah.

Fenomena tersebut dirasakan langsung para anggota Hippindo, sehingga strategi khusus agar bisa mempertahankan penjualan. Caranya, ya itu tadi, mengorbankan sebagian margin keuntungan lewat program diskon.

“Jadi itu kami alami juga. Omzet naik, tapi memang ada penurunan profit. Itu memang strategi untuk menaikkan penjualan dengan menekan profit. Dengan diskon otomatis profit kami berkurang,” ujar Budihardjo di kantor Kemenko Ekonomi, Jakarta Pusat, Kamis (6/8).

Pemberian potongan harga menjadi salah satu upaya agar masyarakat tetap berbelanja di tengah tekanan terhadap daya beli. Namun, konsekuensinya adalah keuntungan yang diperoleh perusahaan menjadi semakin tipis.

Karena itu, Hippindo berharap efisiensi yang dilakukan pelaku usaha di internal perusahaan dapat diimbangi dengan dukungan dari pemerintah melalui berbagai kebijakan yang mampu menekan biaya operasional.

Google

Tambahkan Inilah.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.

Tambahkan Sekarang

Visited 5 times, 5 visit(s) today