Halaman pertama Coretax untuk log in akun dan pendaftaran NPWP (Foto: Tangkapan layar laman Coretax)
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com
Persoalan yang membelit aplikasi Coretax perlu dilihat secara komprehensif. Direktur Eksekutif Pratama-Kreston Tax Research Institute, Prianto Budi Saptono, menganalisis kegagalan sistem ini melalui pendekatan Input-Process-Output untuk memahami di mana letak persoalan sebenarnya.
Menurut Prianto, ketika output atau hasil yang didapat bermasalah, maka akar penyebabnya dapat dilacak dari dua tahapan sebelumnya. “Dengan kata lain, input diproses menjadi output. Ketika output bermasalah, penyebabnya bisa berasal dari tahapan,” ujarnya kepada Inilah.com, dikutip Minggu (26/10/2025).
Tahapan pertama yang krusial adalah input. Prianto menduga, masalah di tahap ini bisa berasal dari proses pengadaan yang tidak sehat.
“Permasalahan di tahapan input, dapat berasal dari proses pengadaan konsultan karena di antaranya ada markup nilai kontrak dan/atau kongkalikong untuk memenangkan rekanan tertentu,” tuturnya.
Tahapan berikutnya yang tak kalah penting adalah proses. Di sinilah, kompetensi dari para pelaksana teknis memegang peranan kunci. Prianto menyoroti kemungkinan adanya kelemahan dalam hal ini.
“Kemudian, kata dia, tahapan kedua yakni proses. Permasalahan di tahapan ini berasal dari kompetensi programmer yang tidak memadai. Sebagai akibatnya, pemrograman bahasa Coretax menjadi masalah seperti apa yang terlihat sekarang ini,” tambahnya.
Prianto menekankan pentingnya tindakan sistematis dan mendalam. Ia merekomendasikan serangkaian audit untuk mengidentifikasi kegagalan di setiap tahapan. Ditekankan, solusi yang diberikan tidak boleh bersifat tambal sulam, tetapi menyentuh akar permasalahannya.
“Berdasarkan dua tahapan di atas, sangat urgent bila dilakukan audit operasional, audit forensik, dan/atau audit teknologi informasi,” pungkas Prianto.
Sebelumnya, pengakuan mengejutkan datang dari Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa, yang mengakui Coretax tak mumpuni untuk digunakan. Bahkan dia menggandeng peretas putih alias White Hacker untuk menguji aplikasi warisan eks Menkeu Sri Mulyani, usai dilakukan sejumlah perbaikan.
“Kita juga sudah panggil hacker kita, yang jago-jago, ini bukan orang asing. Orang Indonesia tuh hacker-nya jago-jago banget, saya panggil yang ranking-ranking dunia itu yang jagoan, enggak payah sih. Dan sudah di-test, sudah lumayan,” ujar Purbaya kepada wartawan, di Kementerian Keuangan, Jakarta, Jumat (24/10/2025).
Purbaya mengatakan, sistem Coretax yang telah dikembangkan selama empat tahun oleh pihak asing rupanya sering bermasalah. Bahkan dia menyebut, pihak asing, LG CNS, yang ditunjuk untuk menyelesaikan sistem Coretax juga tak menemukan jalan keluar.
“Kesimpulannya yang saya bilang tadi, dari problem kritis yang sering dialami pengguna, itu sudah cukup banyak terasa sih, sesuai dengan target awal kita ya, target awal anak buah saya sih, karena depan bisa diberesin, tengah bisa diberesin, yang di bawah yang di LG enggak bisa,” kata dia.










