Anggaran 2.600 Rumah Korban Bencana Bukan dari APBN, Menteri Ara: Sumbangan Buddha Tzu Chi

Anggaran 2.600 Rumah Korban Bencana Bukan dari APBN, Menteri Ara: Sumbangan Buddha Tzu Chi

Clara Medium.jpeg

Rabu, 17 Desember 2025 – 21:15 WIB

Menteri Perumahan dan Kawasan Pemukiman (PKP), Maruarar Sirait (Ara) di Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK), Jakarta, Rabu (17/12/2025).(Foto: inilah.com/Clara Anna Scholastica)

Menteri Perumahan dan Kawasan Pemukiman (PKP), Maruarar Sirait (Ara) di Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK), Jakarta, Rabu (17/12/2025).(Foto: inilah.com/Clara Anna Scholastica)

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com

+ Gabung

Menteri Perumahan dan Kawasan Pemukiman (PKP), Maruarar Sirait atau Ara menyebut pembangunan rumah tetap sebanyak 2.603 unit untuk korban bencana banjir dan longsor di Aceh, Sumatera Utara dan Sumatera Barat tak berasal dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

“Uangnya non-APBN. 2.603 rumah,” ujar Maruarar kepada wartawan, di Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK), Jakarta, Rabu (17/12/2025).

Ara menjelaskan, anggaran pembangunan rumah tetap di tiga provinsi itu berasal dari sumbangan dari yayasan Budha Tzu Chi dan dirinya pribadi. Meski begitu, dia tak merinci masing-masing nominal yang dikeluarkan untuk pembangunan rumah tersebut.

“Dari Yayasan Buddha Tzu Chi 2.500 (unit), dari saya pribadi 103 (unit),” katanya.

Dia mengatakan pembangunan 2.603 rumah akan memperhatikan aspek hukum hingga teknikal. Dia juga menegaskan, nantinya pembangunan rumah akan memperhatikan ekosistem kehidupan di lingkungan hunian.

“Artinya, jangan sampai kita memindahkan, merelokasi rakyat yang kena bencana, banjir, longsor ke tempat yang tidak aman. Jadi itu betul-betul diperiksa betul daerah itu aman dari situasi-situasi yang tidak baik seperti banjir dan longsor,” ucap dia.

“Rumah itu bukan hanya gedungnya dibangun tapi kehidupannya berpindah begitu, ya. Jadi juga pikirkan lokasi tempat anak-anaknya bersekolah, pikirkan tempat bekerja orang tuanya, bagaimana ke pasar. Jadi itu ekosistem itu harus menjadi pertimbangan,” tambahnya.

Visited 3 times, 1 visit(s) today