Ilustrasi minyak goreng rakyat atau yang dikenal dengan Minyakita (Foto: ANTARA/Maria Cicilia Galuh).
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com
Rencana penerapan biodiesel 50 persen (B50), dampaknya mulai terasa. Harga minyak goreng (migor) di pasaran, semakin mencekik dompet par ibu rumah tangga alias emak-emak.
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS), Amalia Adininggar Widyasanti mengatakan, terdapat kenaikan harga minyak goreng (migor), meski tipis untuk seluruh kualitas. Baik migor curah, premium maupun Minyakita. Sehingga, konsumen harus membayar di atas harga eceran tertinggi (HET).
“Minyak goreng ini, dia stabil tinggi, tidak pernah turun. Ada kenaikan tipis, tipis sekali tetapi perlahan dan stabil tinggi, sehingga harga yang dibayar oleh konsumen adalah harga yang tinggi,” ujar Amalia dalam Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi Daerah dipantau secara daring di Jakarta, Selasa (11/11/2025).
Ia memaparkan harga rata-rata minyak goreng seluruh kualitas secara nasional pada minggu pertama November 2025 sebesar Rp19.480 per liter, sedangkan pada Oktober 2025 Rp19.469 per liter.
Kenaikan harga ini terjadi di 102 kabupaten/kota, di mana harga tertinggi mencapai Rp60.000 per liter dan terendah Rp15.500 per liter.
Khusus Minyakita, BPS mencatat, rata-rata harga minyak goreng rakyat nasional berada di angka Rp17.261 per liter.
Sedangkan pada bulan sebelumnya Rp17.220 per liter. Harga tersebut berada di di atas harga eceran tertinggi (HET) yang ditetapkan sebesar Rp15.700 per liter.
Lebih lanjut, terdapat 80 kabupaten/kota di Pulau Jawa yang rata-rata harga Minyakita di atas HET.
Untuk luar Pulau Jawa, terdapat 305 kabupaten/kota yang harga Minyakita di atas HET, di antaranya Kabupaten Pegunungan Bintang Rp50.000 per liter, Kabupaten Puncak Jaya Rp40.000 dan Kabupaten Yahukimo Rp40.000.
“Stabil tinggi, perlahan sudah minggu terakhir ini harga minyak goreng sudah ada kenaikan sedikit,” jelasnya.
Dampak B50
Sebelumnya, Guru Besar Kebijakan Agribisnis Institut Pertanian Bogor (IPB), Bayu Krisnamurthi mengingatkan pemerintah akan dampak dari kebijakan mandatori biodiesel 50 persen (B50). Atau campuran BBM jenis solar dengan 50 persen minyak sawit, yang mulai berlaku tahun depan.
Misalnya itu tadi, harga minyak goreng akan mengalami kenaikan secara perlahan. “Kemudiannya adalah, harga minyak goreng itu akan naik kira-kira sekitar Rp1.900 per liter,” ujar Bayu dalam Forum Group Discussion di Hotel Borobudur, Jumat (7/10/2025).
Sementara itu, Tim peneliti Pusat Penelitian Pranata Pembangunan Universitas Indonesia (Pranata UI), Surjadi menekankan, pentingnya penerapan kebijakan biodiesel nasional secara terukur, adaptif, dan berbasis data ilmiah guna memperkuat agenda transisi energi hijau pemerintah.
“Penelitian kami, merekomendasikan agar seluruh pemangku kepentingan dalam industri ini mempertimbangkan seksama kapasitas produksi sawit nasional, daya saing ekspor, dan kesejahteraan petani agar manfaat program ini terasakan secara menyeluruh,” kata Surjadi.
Saat ini, kata dia, Indonesia merupakan produsen dan konsumen minyak sawit (CPO) terbesar di dunia, dengan produksi mencapai 48,2 juta ton, atau 54 persen dari pasokan global, serta luas areal perkebunan sekitar 16,8 juta hektare (ha).












