Banggakan Indonesia, Heru Sutadi Terpilih Kembali Jadi Presiden ADCS hingga 2031

Banggakan Indonesia, Heru Sutadi Terpilih Kembali Jadi Presiden ADCS hingga 2031

Ibnu Medium.jpeg

Jumat, 5 Juni 2026 – 05:55 WIB

Pakar digital RI, Heru Sutadi, kembali terpilih aklamasi sebagai Presiden ADCS 2026-2031 di Hong Kong. Bawa misi perkuat tata kelola AI dan keamanan siber. (Foto: Dok. Pri/Inilah.com)

Pakar digital RI, Heru Sutadi, kembali terpilih aklamasi sebagai Presiden ADCS 2026-2031 di Hong Kong. Bawa misi perkuat tata kelola AI dan keamanan siber. (Foto: Dok. Pri/Inilah.com)

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com

+ Gabung

Pakar digital dan telekomunikasi asal Indonesia, Heru Sutadi, kembali menorehkan prestasi gemilang di kancah internasional. Ia terpilih secara aklamasi untuk kembali menduduki posisi President of Asia Digital Connectivity and Society (ADCS) periode 2026–2031 dalam Sidang Umum ADCS di Hong Kong, Rabu (3/6/2026).

Keterpilihan Heru mendapat dukungan penuh dari delegasi 25 negara Asia yang hadir. Hal ini mencerminkan tingginya kepercayaan internasional terhadap kepemimpinan Heru sebelumnya, terutama dalam mendorong kolaborasi lintas negara untuk konektivitas digital dan tata kelola teknologi yang inklusif.

“Ini bukan hanya kepercayaan kepada saya secara pribadi, tetapi juga penghargaan terhadap kontribusi Indonesia dalam pengembangan ekosistem digital di kawasan Asia. Saya mengucapkan terima kasih kepada seluruh negara anggota,” ujar Heru Sutadi dalam sambutannya usai terpilih.

Asia Sebagai Episentrum Digital dan Ancaman Siber 

Menurut Heru, Asia tengah mengalami fase perkembangan konektivitas paling pesat dalam sejarah. Dengan masifnya adopsi 5G, komputasi awan (cloud computing), Internet of Things (IoT), hingga Kecerdasan Buatan (AI), Asia tidak lagi sekadar menjadi pasar, melainkan episentrum pertumbuhan ekonomi digital global.

Namun, kemajuan pesat tersebut ibarat pisau bermata dua. Heru secara terbuka mengingatkan negara-negara anggota akan ancaman serius di balik gemerlapnya teknologi, mulai dari kejahatan siber, pencurian data pribadi, disinformasi, penipuan digital, hingga kesenjangan akses (digital divide).

Ia secara khusus menyoroti disrupsi Kecerdasan Buatan (AI) yang dinilai sebagai teknologi paling transformatif pasca-penemuan internet. “Tanpa tata kelola yang baik, AI dapat memperbesar kesenjangan sosial, mengancam lapangan pekerjaan tertentu, serta menimbulkan persoalan etika dan privasi yang serius,” tegas Heru.

Oleh karena itu, ia mendorong negara-negara Asia untuk tidak hanya berlomba membangun infrastruktur, melainkan juga membangun “kepercayaan digital” agar masyarakat merasa aman menggunakan teknologi.

Fokus Talenta Digital dan 5 Agenda Prioritas 

Ke depan, Heru menilai krisis ketersediaan sumber daya manusia di bidang digital menjadi tantangan terbesar Asia. Ia menegaskan bahwa investasi terbesar suatu negara seharusnya diletakkan pada pengembangan manusianya (talenta digital), yang akan menjadi aset penentu daya saing bangsa di masa depan.

Dalam masa kepemimpinannya hingga lima tahun ke depan, Heru menetapkan lima agenda prioritas organisasi:

  1. Memperluas konektivitas digital yang inklusif.
  2. Memperkuat keamanan siber kawasan.
  3. Mendorong pengembangan talenta digital secara masif.
  4. Membangun tata kelola AI yang bertanggung jawab.
  5. Memperkuat kolaborasi lintas negara demi ekonomi digital berkelanjutan.

“Kita ingin memastikan bahwa kemajuan teknologi tidak hanya dinikmati oleh negara-negara maju atau kota-kota besar. Masa depan digital Asia harus menjadi masa depan yang inklusif dan berkeadilan,” pungkas Heru menutup pidatonya.

Google

Tambahkan Inilah.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.

Tambahkan Sekarang

Visited 1 times, 1 visit(s) today