Ekonom senior dari Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Aviliani. (Foto: Antara).
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com
Mungkin banyak yang tak tahu, banyak pelaku usaha kelas UMKM (Usaha Mikro, Kecil dan Menengah) yang sudah megap-megap. Bisa bertahan saja, sudah untung.
Wakil Ketua Umum Bidang Analisis Kebijakan Makro-Mikro Ekonomi Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, Aviliani mengatakan, beratnya situasi ekonomi yang dihadapi pelaku UMKM, membuat mereka berat untuk membayar cicilan kredit. Alhasil, kredit macet sektor UMKM di perbankan, tak terbendung.
“Memang dari sisi supply side, ada KUR [Kredit Usaha Rakyat]. KUR itu gede-gedean, tapi dia nggak punya demand. Makanya kredit macetnya naik kalau kita lihat,” kata Aviliani di Jakarta, dikutip Sabtu (17/1/2026).
Menurut Lili, begitu sapaan karib Aviliani, saat ini, banyak UMKM berada di level usaha untuk bertahan hidup. Mereka menghadapi kondisi yang rentan yang berujung pada meningkatnya risiko kredit macet. “Mereka itu menjadi UMKM hanya untuk bertahan hidup. Tapi tidak bisa naik kelas,” jelasnya.
Kondisi ini, menurutnya, perlu menjadi perhatian serius sektor swasta, dengan mendorong UMKM agar terintegrasi ke dalam rantai pasok atau supply chain industri yang lebih besar.
“UMKM jangan hanya sekadar bertahan hidup, tapi juga memiliki peluang untuk naik kelas. Ke depan, Kadin berencana memulai penguatan integrasi UMKM ke dalam rantai pasok melalui sektor pangan,” ungkapnya.
Dia bilang, sektor UMKM relatif paling mudah dikembangkan sejalan dengan agenda pemerintah dalam mewujudkan kemandirian pangan nasional. “Yang kedua adalah supply chain berkaitan dengan manufaktur. Karena manufaktur ini juga harus digerakkan,” tegasnya.
Hingga November 2025, pemerintah melaporkan, penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) UMKM, sudah mencapai 83 persen. Atau sekitar Rp238 triliun, dari target sebesar Rp286 triliun pada 2025.
Dari target tersebut, KUR telah disalurkan kepada 2,25 juta debitur baru, atau sekitar 96 persen dari target 2,34 juta debitur. Selanjutnya untuk debitur graduasi, mengalami kenaikan melampaui target, yakni 112 persen, atau setara 1,3 juta debitur, sementara targetnya 1,2 juta debitur.











