Bencana Aceh Tamiang, BRIN Ungkap Sekitar 58 Ribu Bangunan Rusak

Bencana Aceh Tamiang, BRIN Ungkap Sekitar 58 Ribu Bangunan Rusak

Basuki Medium.jpeg

Kamis, 8 Januari 2026 – 12:02 WIB

Ketua Gugus Tugas Penanggulangan Bencana, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Joko Widodo memaparkan data bangunan rusak Aceh Tamiang akibat bencana hidrometeorologi dalam webinar di Jakarta, Kamis (8/1/2026). (Foto: Tangkapan layar/ Antara/ Sean Filo Muhamad)

Ketua Gugus Tugas Penanggulangan Bencana, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Joko Widodo memaparkan data bangunan rusak Aceh Tamiang akibat bencana hidrometeorologi dalam webinar di Jakarta, Kamis (8/1/2026). (Foto: Tangkapan layar/ Antara/ Sean Filo Muhamad)

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com

+ Gabung

Ketua Gugus Tugas Penanggulangan Bencana, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Joko Widodo menyebutkan sekitar 58.000 bangunan rusak akibat bencana hidrometeorologi yang terjadi di Kabupaten Aceh Tamiang, beberapa waktu lalu.

“Hasil analisis dari BRIN ada 58.000 bangunan kemungkinan terdampak (bencana),” ujar Joko dalam seminar yang diikuti secara daring di Jakarta, Kamis (8/1/2026).

Joko memaparkan angka tersebut didapatkan dari hasil analisis tim Gugus Tugas Penanggulangan Bencana BRIN melalui pemetaan citra satelit.

“Kami mengamati dengan baik apa yang terjadi di lapangan, kalau kami boleh katakan Aceh Tamiang boleh dikatakan 90 persen terdampak,” kata Joko.

Lebih lanjut Joko menyebut data ini perlu divalidasi lebih lanjut, sebab metode yang digunakan berbeda dengan metode yang dilakukan oleh pemangku kepentingan terkait lainnya.

Namun demikian, data yang dapat diakses melalui laman https://spectra.brin.go.id itu bisa menjadi acuan kepada seluruh pemangku kepentingan dalam merekonstruksi wilayah terdampak bencana di Sumatera.

Selain itu, Joko menuturkan pihaknya juga telah menyampaikan data ini kepada pihak Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN/Bappenas) untuk bisa menjadi acuan pengambilan keputusan yang tepat.

“Dalam pembicaraan itu kemudian kami sampaikan ‘Pak, untuk Aceh Tamiang, kalau kita merelokasi, kita akan seperti memindahkan kota, karena Aceh Tamiang itu memang di dataran banjir ya, flat plains. Kemudian, di tengahnya ada Sungai Tamiang yang lebar, daerahnya flat, jadi itu sebenarnya memang rentan banjir’,” ungkapnya.

Di samping itu, ia juga menyampaikan opsi untuk melakukan rekayasa teknik (engineering) untuk menciptakan pembatas agar kondisi meluapnya Sungai Tamiang tidak sampai berdampak kepada masyarakat yang tinggal di wilayah tersebut.

“Karena di Aceh Tamiang itu sangat memprihatinkan, banyak bangunan rumah yang tinggi lantai dan fondasinya dan itu bersih semua tersapu banjir dengan sangat bersih. Tidak ada bekas dinding, tidak ada atap, isinya rumah juga tidak tahu kemana, dan itu sangat banyak, sangat luas area yang mengalami seperti itu,” tutur Joko menjelaskan.

Visited 2 times, 1 visit(s) today