Berkali-kali Duit Nasabah BCA Dibobol, Pertanda Lemahnya Keamanan Transaksi, Ekonom: Hati-hati Kena ‘Rush’

Berkali-kali Duit Nasabah BCA Dibobol, Pertanda Lemahnya Keamanan Transaksi, Ekonom: Hati-hati Kena ‘Rush’

Clara Medium.jpeg

Rabu, 24 September 2025 – 04:09 WIB

Layanan m-banking BCA. (Foto: id.pinterest.com).

Layanan m-banking BCA. (Foto: id.pinterest.com).

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com

+ Gabung

Meski beritanya sudah senyap, kasus bobolnya rekening dana nasabah atau RDN milik PT Panca Global Sekuritas (PGS) di PT Bank Central Asia Tbk (BCA), menjadi catatan hitam bagi perbankan di Indonesia.

Apalagi, kasus bobolnya dana nasabah itu terjadi di bank besar sekelas BCA. Jelas bukan bank ecek-ecek, jumlah rekeningnya saja mencapai 42 juta rekening per Juni 2025. Dengan nilai aset sekitar Rp1.534 triliun per kuartal I-2025. Pertumbuhan asetnya mencapai 6,2 persen per tahun.

“Jelas, BCA sebagai bank terbesar skala nasional pun, ternyata harus memperbaiki sistem pengawasan internalnya. Dan, OJK (Otoritas Jasa Keuangan) juga harus turun tangan selalu pihak eksternal yang punya wewenang untuk menginvestigasi fraud ini,” kata ekonom dari Pergerakan Kedaulatan Rakyat (PKR), Gede Sandra kepada Inilah.com, Jakarta, Selasa (25/9/2025).

Intinya, kata Gede, publik layak mempertanyakan sistem serta pengawasan seluruh transaksi perbankan di BCA. Kalau bisa dengan mudah dibobol, jangan salahkan jika nasabah memindahkan dananya ke bank lain.

“Karena banyak masyarakat yang bergantung kepada bank ini. Jangan sampai muncul ketidakpercayaan di kalangan masyarakat yang dapat membuat penarikan dana nasabah besar-besaran alias rush money,” tandasnya.

Sebelumnya, anggota Komisi XI DPR, Puteri Anetta Komarudin mempertanyakan kasus bobolnya RDN milik PT Panca Global Sekuritas (PGS) di BCA, kepada OJK.

“Beberapa hari ini, kita melihat ada salah satu bank swasta (BCA) yang terterpa isu, di mana, ada kebobolan rekening dana nasabah milik perusahaan sekuritas (PGS) yang ditempatkan. Ini berada di ranah pengawasan Pak Dian,” ujar Puteri dalam rapat kerja (raker) dengan OJK di Kompleks Parlemen, Jakarta, Rabu (17/9/2025).

Politikus Partai Golkar ini, mengatakan, meski pihak BCA telah membantah adanya pembobolan rekening, namun hal tersebut tak meredakan kekhawatiran publik terkait keamanan dananya di bank swasta. Dia pun meminta OJK untuk dapat memberikan klarifikasi.

Tak hanya itu, vokalis Komisi XII DPR ini, menyoroti sejumlah kasus pembobolan rekening di Bank Pembangunan Daerah (BPD) dan bank pelat merah atau Himbara (Himpunan Bank Milik Negara).

“Karena permasalahan akhir-akhir ini, di perbankan, memang soal kebobolan sistem IT. Bukan hanya terjadi di bank swasta, BPD, di bank Himbara juga ada yang terkena serangan siber,” jelas dia.

Selanjutnya, Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK, Dian Ediana Rae menjelaskan, kasus bobol bank yang terjadi di sejumlah BPD, sudah dilakukan pemeriksaan, secara menyeluruh terhadap perbankan di daerah.

Sejauh ini, kata Dian, OJK mengidentifikasi titik lemah yang dihadapi BPD maupun bank di daerah. Agar OJK bisa mengidentifikasi akar persoalan yang ada. Saat ini, OJK melakukan pendekatan yang lebih terintegrasi antara pengawas perbankan dan pengawas pasar modal, untuk menangani kasus pembobolan tersebut.

“Jadi, misalnya kalau ada di RDN, itu terkait dengan pasar modal dan terkait juga dengan perbankan. Tentu kita juga akan langsung melakukan pemeriksaan bersama,” kata Dian.

Dia menegaskan, penguatan sistem informasi di RDN maupun di bank, sudah menjadi perhatian OJK, sejak lama. “Intinya adalah penguatan yang terkait dengan sistem informasi di RDN maupun di bank itu sendiri memang merupakan perhatian kami,” ucap dia.

Bukan Sekali

Mengingatkan saja, ihwal bobolnya RDN milik PT Panca Global Sekuritas (PGS), anak usaha PT Panca Global Kapital Tbk (PEGE), terungkap Selasa (9/9/2025). Ditemukan adanya aktivitas mencurigakan berupa penarikan dana lumayan gede, secara berulang dalam waktu singkat.

Direktur PEGE, Trisno Limanto mengatakan, pengalihan sejumlah dana ke pasar modal, di luar tujuan. Karena, sudah ada daftar atau list pihak-pihak untuk transaksi transfer.

“Pengalihan dana dengan tujuan di luar rekening yang telah didaftarkan sebelumnya oleh PGS (whitelist). Dugaannya, transfer keluar dilakukan lewat BCA Klik Bisnis,” kata Trisno, dikutip dari keterbukaan informasi di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jumat (12/9/2025).  

Asal tahu saja, Klik Bisnis merupakan fitur internet banking dari Bank BCA yang dirancang khusus untuk nasabah bisnis. Memudahkan nasabah bisnis dalam mengelola keuangan perusahaan secara efisien dan aman. Bisa diakses dengan komputer atau laptop.

Layanan ini memungkinkan berbagai transaksi perbankan seperti transfer dana, pembayaran tagihan, cek saldo hingga pembuatan laporan keuangan secara online. Jadi, bisa menghemat waktu dan tidak perlu repot harus datang ke cabang BCA

Dan, setiap investor di pasar modal wajib memiliki RDN agar bisa bertransaksi. Intinya, RDN memudahkan investor dan perusahaan sekuritas dalam jual-beli saham, reksadana, obligasi dan efek lain.

Trisno mengatakan, manajemen PGS masih menghitung nilai kerugian dari transaksi gelap tersebut. Diinformasikan sebelumnya, RDN mlik PGS kebobolan sekitar Rp70 miliar. “Manajemen PGS telah melakukan tindakan pada 10 September 2025 dengan mengembalikan dana pada RDN yang terdampak,” ujar Trisno.

Sedangkan, Sekretaris Perusahaan BCA, I Ketut Alam Wangsawijaya menerangkan, BCA telah melakukan investigasi atas kejadian ini. “BCA sedang melakukan investigasi mendalam, terhadap kejadian tersebut. Tentunya bersama dengan perusahaan sekuritas terkait,” kat Ketut, dikutip dari keterbukaan informasi di BEI, Jakarta, Jumat (12/9/2025).

Dia memastikan, sistem BCA dalam kondisi aman. Sejumlah langkah telah dilakukan, termasuk berkoordinasi dengan sekuritas dan institusi penerima dana. “BCA berkomitmen mendukung investigasi dari seluruh pihak terkait,” ujarnya.

Sejatinya, bukan kali ini saja dana nasabah BCA dibobol. Pada 2023, muncul kejadian serupa. Rekening tabungan milik nasabah BCA senilai Rp320 juta dibobol. Menunjukkan lemahnya sistem keamanan atas transaksi digital BCA.

Kala itu, Presiden Direktur BCA Jahja Setiaatmadja justru menyalahkan nasabah yang tidak mampu menjaga kerahasiaan terkait KTP, Kartu ATM, buku tabungan serta nomor PIN. Padahal, data-data tersebut adalah ‘nyawa’ kedua yang harus dijaga dengan baik.

“Namanya KTP, kartu ATM, buku tabungan, serta nomor PIN itu nyawa kedua. Makanya para nasabah harus bisa menyimpan dengan baik,” ucap Jahja, Jakarta, Kamis (26/1/2023).

Jahja bilang, seseorang bermodalkan kartu ATM dan nomor PIN, ketika berhadapan dengan mesin ATM, bisa langsung menarik dana tunai Rp10 juta. “Selain itu, bisa transfer ke bank lain sebesar Rp25 juta sampai Rp50 juta lewat ATM,” ucapnya.

Namun, kalau sudah kejadian, nasabah yang rekeningnya dibobol hanya bisa gigit jari. Jangan berharap duitnya utuh kembali. Pihak bank pastilah cari selamat. Misalnya dengan memecat oknum bank yang yang terbukti terlibat fraud. Masalah selesai. 
 

Topik
Komentar

Visited 1 times, 1 visit(s) today