Bos BGN Bicara Uji Organoleptik untuk Cek Kesiapan Menu MBG, Apa Maksudnya?

Bos BGN Bicara Uji Organoleptik untuk Cek Kesiapan Menu MBG, Apa Maksudnya?

Reyhaanah Medium.jpeg

Senin, 29 September 2025 – 06:00 WIB

Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Dadan Hindayana di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta Pusat, Senin (8/9/2025). (Foto: Inilah.com/Reyhaanah).

Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Dadan Hindayana di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta Pusat, Senin (8/9/2025). (Foto: Inilah.com/Reyhaanah).

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com

+ Gabung

Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Dadan Hindayana, menegaskan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) tidak dijalankan secara asal coba. Ia menilai tantangan muncul lantaran jumlah Satuan Pelaksana Program Gizi (SPPG) melonjak tajam sepanjang 2025.

“Untuk 2025 ini SPPG tumbuh setiap hari, dari 190 SPPG di 6 Januari sekarang hari ini sudah 4.721, bahkan dalam 1 bulan terakhir ini bertambahnya itu 4.200,” ujar Dadan dalam Podcast Jurnalisik Inilah.com, dikutip Senin (29/9/2025).

Menurutnya, banyak SPPG baru yang langsung melayani dalam jumlah besar sejak awal, padahal idealnya dimulai bertahap. “Katakanlah 100, setelah bisa dengan 100 naik 200, setelah bisa dengan 200 naik lagi ke 500, sudah 500 oke naik 1.000,” jelasnya.

Dadan menekankan, menjaga kualitas makanan penting untuk mempertahankan kepercayaan publik. Salah satu cara yang bisa dilakukan sebelum makanan dibagikan, lanjutnya, adalah uji organoleptik, yakni pemeriksaan dengan indera manusia tanpa harus mencicipi.

“Kami meminta agar ada uji organoleptik, itu kan enggak selalu harus dicoba. Yang penting misalnya melihat saja kan sudah bisa dilihat, kadang-kadang kalau saya lihat makanan yang sudah beberapa hari yang kurang baik misalnya timbul selaput atau berair atau jamur, itu kan penglihatan,” paparnya.

Ia menambahkan, makanan juga bisa dicek lewat penciuman atau peraba. “Kalau misalkan masakan itu belum matang kan bisa dicium baunya. Misalnya kalau baunya berbeda kan harusnya tidak diberikan atau kalau misalkan kita curiga sedikit ya bisa dipegang. Itu namanya uji organoleptik, uji itu tidak selalu harus dicoba,” tegas Dadan.

Dengan langkah sederhana itu, Dadan berharap keamanan dan kualitas makanan MBG bisa lebih terjaga, terutama di tengah pesatnya pertumbuhan dapur penyedia MBG di berbagai daerah.

Diketahui, sebanyak 4.711 orang menjadi korban keracunan MBG di tujuh wilayah Indonesia. Dari jumlah itu, 1.281 kasus terjadi di Sumatra, 2.606 kasus di Jawa, serta 824 kasus di Kalimantan, Bali, Sulawesi, NTT, Maluku hingga Papua.

Namun, Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI) mencatat angka berbeda yakni mencapai 6.452 korban per 21 September 2025. Kasus di Bandung Barat menjadi salah satu yang disorot. Laboratorium Kesehatan (Labkes) Jawa Barat menemukan bakteri Salmonella dan Bacillus Cereus pada sampel makanan program MBG.

Berdasarkan data Badan Gizi Nasional (BGN), ada 9.533 SPPG yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia. Namun, hingga kini belum ada kepastian berapa di antara mereka yang sudah mengantongi Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS).
 

Topik
Komentar

Visited 3 times, 1 visit(s) today