Isu miring mengenai rencana penjualan pesawat oleh PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk. langsung ditepis keras oleh petinggi Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara). Chief Operating Officer (COO) Danantara Dony Oskaria meluruskan kabar liar yang mencuat jelang Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) emiten berkode GIAA tersebut.
Ditemui di Kantor Kementerian Keuangan, Jakarta Pusat, Kamis (23/10/2025), Dony menegaskan bahwa tidak ada agenda penjualan aset, apalagi aset berupa pesawat. “Tidak ada penjualan aset (pesawat Garuda Indonesia), enggak ada,” tepisnya lugas.
Menurut Dony, isu yang beredar telah salah diartikan. Ia menjelaskan bahwa RUPSLB memang akan membahas pengalihan kekayaan, tetapi itu bukan berarti penjualan aset pesawat yang masih dimiliki.
“Penjualan aset itu bukan aset pesawat, masa pesawatnya dijual? Itu (pengembalian ke lessor) bukan dijual, tetapi kalau sudah jatuh tempo tentu ada yang dikembalikan,” jelasnya.
Dony merujuk pada mekanisme pengembalian pesawat yang habis masa sewanya kepada pihak lessor (pihak penyewa). Hal ini merupakan proses normal dalam operasional maskapai yang banyak menggunakan skema sewa. Sayangnya, Dony tidak merinci berapa jumlah pesawat yang harus dikembalikan Garuda. Ia menekankan, detail teknis ini harus dikonfirmasi langsung oleh manajemen GIAA.
GIAA Siap Lepas Landas Menuju Keuntungan
Di tengah isu sensitif mengenai aset perusahaan, Dony Oskaria membawa kabar baik yang menyegarkan bagi pemegang saham dan publik. Bos Danantara itu memproyeksikan, Garuda Indonesia bakal kembali mengantongi keuntungan pada tahun 2026 mendatang. Proyeksi ini menjadi sinyal pemulihan kinerja GIAA setelah melalui periode restrukturisasi yang panjang dan menantang.
“Kita harapkan, kalau berdasarkan forecasting, tahun depan (2026) itu Garuda sudah akan untung,” klaim Dony dengan optimis.
Klaim ini tentu menjadi harapan besar bagi maskapai nasional tersebut untuk bangkit dari keterpurukan dan kembali terbang tinggi.
Agenda RUPSLB Garuda 22 November
Isu penjualan aset pesawat ini sendiri mencuat setelah terungkapnya agenda RUPSLB Garuda yang dijadwalkan pada 22 November 2025 di Gedung Manajemen Garuda, Bandara Internasional Soekarno-Hatta.
Ada empat poin penting yang akan dibahas dalam RUPSLB bulan depan:
1. Persetujuan peningkatan modal melalui mekanisme Penambahan Modal Tanpa Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (PMTHMETD), yang merupakan tindak lanjut RUPSLB sebelumnya.
2. Permintaan persetujuan pengalihan kekayaan perseroan yang nilainya lebih dari 50 persen dari kekayaan bersih Garuda. Poin ini mencakup pemindahtanganan serta penghapusbukuan aset, termasuk pesawat, unused pesawat, serta Low Value Asset (LVA) dan Unit Load Device (ULD). Poin kedua inilah yang menimbulkan spekulasi dan isu penjualan.
3. Permintaan persetujuan pelimpahan kewenangan terkait pengalihan kekayaan perseroan yang melebihi 50 persen jumlah kekayaan bersih perusahaan.
4. Permintaan persetujuan atas rencana jangka panjang perusahaan (RJPP), yang krusial untuk arah bisnis GIAA ke depan.
Dengan penegasan Dony Oskaria bahwa yang terjadi adalah pengembalian ke lessor, bukan penjualan aset utama berupa pesawat, diharapkan spekulasi di pasar dapat mereda. Fokus kini beralih pada RUPSLB mendatang dan pencapaian target keuntungan GIAA pada tahun 2026.














