Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto dalam konferensi pers di Kemenko Perekonomian, Jakarta, Selasa (3/3/2026). (Foto: Inilah.com/ Clara Anna S)
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com
Jika tak ada aral melintang, Menko Perekonomian Airlangga Hartarto akan memanggil seluruh menteri dan kepala lembaga terkait untuk membahas kenaikan harga plastik yang dipicu dampak geopolitik di Timur Tengah, pada Selasa (28/4/2026).
Rencananya, Menko Airlangga akan memimpin rapat Satuan Tugas Percepatan Program Strategis Pemerintah (Satgas P2SP).
“Besok kita akan bahas dalam rapat tim Satgas, Satgas Percepatan Perekonomian Nasional, termasuk debottlenecking,” ujar Menko Airlangga di Kemenko Perekonomian, Jakarta, Senin (27/4/2026).
Ia mengatakan, rapat tersebut juga akan membahas opsi pemberian stimulus untuk merespons kenaikan harga plastik. Namun, ia belum merinci kebijakan yang akan diambil.
“Tunggu, besok baru dibahas,” kata dia.
Sebagai informasi, harga plastik domestik dilaporkan melonjak antara 30 hingga 80 persen. Kenaikan tajam ini terjadi seiring memanasnya konflik yang melibatkan Amerika Serikat (AS), Israel, dan Iran, yang mengganggu distribusi nafta sebagai bahan baku utama plastik.
Lonjakan harga minyak global serta gangguan pasokan bahan baku turunan minyak bumi menjadi pemicu utama yang mengerek biaya operasional, terutama bagi UMKM yang bergantung pada kemasan plastik.
Solusi Mendag Budi
Di hari yang sama, Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso menyatakan pemerintah mempercepat impor nafta sebagai bahan baku plastik guna meredam lonjakan harga di dalam negeri.
Langkah ini merupakan respons atas terganggunya pasokan global akibat konflik geopolitik di kawasan Timur Tengah yang berdampak pada kelangkaan nafta di dalam negeri. “Ya secepatnya (penurunan harga plastik),” ujar Mendag Budi di Jakarta, Senin (27/4/2026).
Selama ini, kata dia, Indonesia masih bergantung pada pasokan nafta dari Timur Tengah. Namun, gangguan distribusi akibat konflik membuat suplai tersendat dan memicu kenaikan harga.
“Bahan baku bijih plastik itu nafta dari Timur Tengah. Karena imbas perang sehingga terganggu,” jelasnya.
Sebagai solusi jangka pendek, pemerintah mempercepat impor dari negara alternatif, seperti India, Amerika Serikat (AS), dan sejumlah negara di Afrika. Meski demikian, pasokan baru masih membutuhkan waktu untuk masuk ke pasar domestik.
“Impor dari tiga negara tadi sudah diproses, tetapi perlu waktu. Sekarang masih proses dengan stok yang ada,” kata Mendag Budi.
Ia menegaskan diversifikasi sumber pasokan menjadi strategi utama pemerintah untuk menjaga stabilitas harga dan memastikan kebutuhan industri tetap terpenuhi.
“Pada prinsipnya kita cari solusi negara lain yang mensuplai bahan baku,” ujarnya.
Menurutnya, tekanan terhadap harga plastik bukan hanya terjadi di dalam negeri, tetapi juga merupakan fenomena global. Bahkan, sejumlah negara produsen mengalami gangguan produksi akibat keterbatasan bahan baku.
“Ini memang krisis global terkait keterbatasan bahan baku,” tegasnya.
Tambahkan Inilah.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.














