Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin (kiri) menyampaikan paparan dalam rapat kerja dengan Komisi IX DPR di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (23/6/2026). (Foto: Antara Foto/Fauzan/tom).
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengungkapkan cakupan imunisasi anak sekolah pada 2025 mengalami penurunan dibandingkan tahun sebelumnya. Menurutnya, kondisi itu terjadi karena pelaksanaan program imunisasi bersamaan dengan program Cek Kesehatan Gratis (CKG) yang baru dijalankan pemerintah.
Budi menjelaskan kedua program tersebut membutuhkan sumber daya dan pelaksanaan yang berbeda sehingga menimbulkan tumpang tindih di lapangan.
“Sehingga terjadi sumber daya manusia dan kegiatannya jadi bentrok karena merupakan dua kegiatan yang berbeda. Jadi tahun ini, kita akan mengintegrasikan antara CKG dengan imunisasi sekolah sebagai satu program, supaya tidak ada perbedaan waktu, perbedaan sumber daya untuk melakukan kegiatan layanan kesehatan di sekolah-sekolah,” tutur Budi di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta Pusat, Selasa (23/6/2026).
Meski capaian imunisasi anak sekolah menurun, Kementerian Kesehatan mencatat perkembangan positif pada imunisasi bayi. Hingga pertengahan tahun ini, cakupan vaksinasi bayi meningkat 5,8 persen dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya.
Namun demikian, Budi menyebut masih terdapat daerah dengan tingkat cakupan imunisasi yang relatif rendah, terutama di Aceh dan Papua.
Ia mengatakan pemantauan imunisasi kini semakin mudah dilakukan setelah pemerintah menggunakan aplikasi Satu Sehat. Melalui sistem tersebut, data penerima vaksin dapat dilacak secara rinci berdasarkan identitas dan alamat masing-masing penerima.
“Sejak kita meluncurkan aplikasi Satu Sehat, seluruh data (vaksin) ini yang tadinya hanya berupa rekapan, sekarang sudah ada by name by address. Jadi namanya siapa, bayinya siapa, diberikan imunisasinya kapan (dapat terlihat),” ungkapnya.
Kenaikan cakupan juga terjadi pada imunisasi ibu hamil dibandingkan tahun lalu. Meski begitu, Kementerian Kesehatan masih mencatat Jawa Timur sebagai provinsi dengan capaian rendah, yakni sekitar 15 persen.
Selain program imunisasi rutin, pemerintah juga menjalankan vaksinasi tambahan untuk merespons potensi kejadian luar biasa atau wabah penyakit. Salah satu yang menjadi perhatian adalah campak.
“Berdasarkan pengalaman di sebelum-sebelumnya, kita ingin memastikan bahwa imunisasi kita ini, momentumnya tahun ini terjaga dengan bagus. Jadi kita melakukan lagi beberapa program imunisasi di luar imunisasi yang rutin sebagai milestone atau momentum untuk mengejar ketertinggalan,” jelasnya.
Untuk mempercepat capaian imunisasi nasional, Kementerian Kesehatan menyiapkan empat program vaksinasi tambahan yang dikaitkan dengan berbagai momentum nasional sepanjang tahun.
Program pertama telah dilakukan pada April lalu bertepatan dengan Hari Imunisasi Dunia dengan sasaran 130.000 anak dan 17.000 orang dewasa.
“Nanti ada event Hari Anak Nasional di Juli kita juga akan lakukan sekali lagi program imunisasi tambahan ini dengan targetnya lebih besar, anak-anak ada 240.000 dan dewasa 80.000, kita juga akan kaitan dengan HUT NKRI ada program imunisasi tambahan,” kata Budi.
Program serupa juga akan digelar saat peringatan Hari Kesehatan Nasional pada November mendatang. Pemerintah berharap momentum berbagai peringatan nasional tersebut dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan cakupan imunisasi di seluruh daerah.
“Dan juga di hari kesehatan nasional di November, sehingga dengan adanya empat momentum atau event nasional ini, kita akan tumpangi dengan program imunisasi nasional dan kita harapkan penetrasi program imunisasi kita jauh lebih baik ke depannya,” pungkasnya.
Tambahkan Inilah.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.











