Debu Proyek dan Bakso yang tak Laku, Cerita Pilu Pedagang di Jalan Bangka

Debu Proyek dan Bakso yang tak Laku, Cerita Pilu Pedagang di Jalan Bangka

syahidan.jpg

Minggu, 16 November 2025 – 17:52 WIB

Gerobak bakso milik Suyatno (48) kini sepi pelanggan sejak adanya galian di Jalan Bangka Raya, Jakarta Selatan. (Foto: Inilah.com/Syahidan).

Gerobak bakso milik Suyatno (48) kini sepi pelanggan sejak adanya galian di Jalan Bangka Raya, Jakarta Selatan. (Foto: Inilah.com/Syahidan).

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com

+ Gabung

Siang itu, terik matahari menyengat aspal Jalan Bangka Raya, Jakarta Selatan. Suara bising proyek galian kabel serat optik mendominasi, dentingan linggis, deru mesin, dan teriakan pekerja yang sibuk mengangkut tanah. Di tengah hiruk-pikuk itu, sebuah gerobak bakso berdiri terpinggirkan, hampir tersembunyi di balik spanduk proyek.

Di balik kacanya yang berdebu, tulisan “Bakso Malang” masih bisa terbaca. Kerupuk pangsit di dalamnya tersusun rapi, dan kuah bakso di panci masih mengepul, aromanya yang pedas sesekali menembus bau tanah galian yang menusuk.

Suyatno (48) sudah lima tahun mangkal di depan minimarket ini. Biasanya, gerobaknya ramai dikunjungi pegawai kantoran, warga, dan anak sekolah yang kelaparan. Tapi seminggu terakhir, semenjak proyek galian dimulai, suasana berubah drastis.

“Tapi sudah hampir seminggu proyek galian ini jalan, yang beli turun jauh. Jalan susah, motor enggak bisa berhenti, orang juga malas dekat-dekat karena debu,” katanya, Minggu (16/11/2025).

Lubang galian sedalam satu meter membentang tak jauh dari tempatnya berjualan. Dua pekerja terlihat duduk di pinggirannya, berkeringat. Ironisnya, meski begitu dekat, mereka jarang membeli. “Pekerjanya kadang beli bakso, tapi tidak sering. Mereka juga hidupnya irit. Saya maklum,” ucap Suyatno.

Yang lebih menyakitkan adalah hilangnya ritme hariannya. Biasanya pukul 11.00, ia sudah sibuk melayani pembeli. Kini, jalanan sepi. Pengendara menghindari jalur ini. Berhenti sebentar pun bisa memicu kemacetan.

“Tapi kalau saya pindah tempat, pelanggan saya hilang, di sini kan juga macet kan karena galian. Takutnya orang engga nyaman juga karena berisik,” ujarnya.

Hidup sebagai pedagang kaki lima telah mengajarkannya banyak hal. Ia pernah hampir tertabrak mobil, kehujanan hingga kuah baksonya encer, bahkan digusur Satpol PP. Tapi kali ini, rasanya berbeda.

Di seberangnya, terpampang spanduk permintaan maaf dari kontraktor proyek. Bagi Suyatno, kata “maaf” itu terasa hampa. Tak ada kompensasi, tak ada tawaran relokasi, apalagi kepastian kapan proyek ini berakhir.

Tapi ia tak menyerah. Setiap hari ia masih datang. Menyeka debu, memanaskan kuah, dan menunggu dengan setia. “Saya cuma berharap orang tetap lewat sini,” ujarnya, senyum tipis mengembang.

Di sisi lain pagar proyek, Hendro (51), salah satu pekerja, turut menyaksikan kesepian gerobak bakso Suyatno. Tangannya memegang linggis, wajahnya coreng-moreng debu.

Ia tahu galian ini menyusahkan banyak orang, termasuk pedagang seperti Suyatno. Tapi ia tak punya pilihan. “Saya cuma nurut sama perintah kerja,” ujarnya, menunjuk garis galian yang harus ia ikuti.

Menurutnya, lokasi galian sudah ditentukan berdasarkan peta proyek. Sedikit pun, mereka tak bisa mengubahnya. Dua manusia, satu lokasi, sama-sama berjuang menghidupi keluarga di tengah kerasnya ibu kota. “Kami ini cuma ngerjain apa yang sudah jadi arahan. Mau geser sedikit pun enggak bisa,” katanya.

Topik
Komentar

Visited 2 times, 1 visit(s) today