Defisit Transaksi Berjalan Meroket, Pengamat Ingatkan Risiko Rupiah ‘Loyo’ Dekati Rp18.000/US$

Defisit Transaksi Berjalan Meroket, Pengamat Ingatkan Risiko Rupiah ‘Loyo’ Dekati Rp18.000/US$

Clara Medium.jpeg

Selasa, 25 Agustus 2026 – 19:08 WIB

Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pada pembukaan perdagangan Kamis (20/8/2026) menguat 30 poin dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya. (Foto: Antara/Nova Wahyudi)

Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pada pembukaan perdagangan Kamis (20/8/2026) menguat 30 poin dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya. (Foto: Antara/Nova Wahyudi)

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com

+ Gabung

Meroketnya angka defisit transaksi berjalan hingga US$12,5 miliar di kuartal II-2026, berpotensi menekan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS (US$). Diprediksi, rupiah bakal kembali loyo setelah ditutup Rp17.721/US$ pada perdagangan Senin (24/8/2026).

Pengamat ekonomi, mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi menyebut, melompatnya defisit transaksi berjalan hingga menyentuh US$12,5 miliar, berpotensi menjadi masalah struktural yang memicu ambruknya rupiah.

Asal tahu saja, defisit transaksi berjalan di triwulan II-2026 sebesar US$12,5 miliar setara dengan 3,3 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB). Angkanya melebar ketimbang defisit di triwulan sebelumnya yang hanya US$3,6 miliar, atau setara 1 persen dari PDB.

Ibrahim menerangkan, pelebaran atas defisit transaksi berjalan ini, bukan hanya disebabkan ketidakpastian perekonomian global yang bersifat temporer.

Namun juga dipantik beratnya beban utang pemerintah dan swasta, kebutuhan impor energi, pembayaran utang jatuh tempo, serta pembagian dividen. Semua faktor itu, memicu kenaikan akan kebutuhan dolar AS.

“Pemerintah mengatakan bahwa defisit transaksi berjalan, disebabkan ekonomi global yang disebut hanya temporer. Akan tetapi, saya melihatnya bukan temporer lagi. Tapi sudah struktural,” ujar Ibrahim kepada Inilah.com, Jakarta, Selasa (25/8/2026).

Dia menilai, pelebaran defisit transaksi berjalan, mendorong kenaikan permintaan akan valuta asing (valas). Masalahnya semakin runyam manakala geopolitik di Timur Tengah belum menunjukkan perkembangan positif.

Sebagai negara yang masih bergantung kepada impor minyak, lanjut Ibrahim, kenaikan harga energi yang dipantik dinamika geopolitik, mendorong tingginya kebutuhan akan dolar AS. Karena untuk membiayai impor.

Selain impor energi, dia menyebut, pembayaran utang jatuh tempo serta dividen, ikut mengungkit permintaan dolar AS. Apalagi pada tahun ini, utang jatuh tempo yang harus dibayar pemerintah berada di kisaran Rp900 triliun.

“Pada saat dolar AS menguat cukup tajam hingga di atas Rp18.000, ditambah kenaikan harga minyak mentah di atas 70 dolar AS per barel, maka permintaan dolar AS semakin tak terbendung,” kata dia.

Ibrahim menjelaskan, menggunungnya angka defisit transaksi berjalan di Indonesia, tidak hanya berasal dari neraca perdagangan saja. Namun ya itu tadi, kebijakan impor minyak sangat mempengaruhi neraca transaksi berjalan.

“Meski pemerintah mendorong program swasembada solar lewat B50, untuk Pertalite dan BBM nonsubsidi kan masih perlu impor. Semuanya itu memberikan tekanan ekstra terhadap transaksi berjalan,” terangnya.

Defisit Transaksi Berjalan Cetak Rekor Tertinggi

Sebelumnya, Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia (BI), Ramdan Denny Prakoso membeberkan defisit transaksi berjalan di kuartal II-2026 menembus US$12,5 miliar. Atau setara 3,3 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB).

Angka defisit neraca transaksi berjalan itu, meroket 3,5 kali lipat ketimbang posisi di kuartal I-2026 yang hanya US$3,6 miliar, setara 1 persen dari PDB.

Dan, angka defisit transaksi berjalan di kuartal II-2026, menjadi rekor tertinggi sejak kuartal I-2004. Sebelumnya, defisit transaksi berjalan terbesar bertengger di level US$10,1 miliar pada kuartal II-2013.

Ilustrasi—Pegawai Bank Indonesia (BI) keluar dari Gedung BI, Jakarta Pusat. (Foto: Bloomberg).

“Defisit transaksi berjalan yang lebih tinggi di kuartal kedua ini, dipengaruhi sejumlah faktor temporer. Karena, neraca perdagangan migas yang defisit. Selain itu, surplus neraca dagang untuk nonmigas pun melandai,” terang Ramdan di Jakarta, Jumat (21/8/2026).

Selain itu, menurut Denny, defisit neraca pendapatan primer mengalami kenaikan, sejalan dengan pembayaran pendapatan primer. Di sisi lain, surplus neraca pendapatan sekunder, relatif stabil ketimbang kuartal I-2026.

Ke depan, Ramdan optimistis, prospek neraca perdagangan Indonesia tetap berada di level positif. Dan, sanggup menopang ketahanan eksternal Indonesia.

“Defisit transaksi berjalan diperkirakan lebih rendah didukung perbaikan prospek ekspor sejalan kenaikan harga komoditas global, termasuk harga komoditas unggulan ekspor Indonesia, dan dampak positif penurunan tarif resiprokal Amerika Serikat (AS),” ujar Ramdan.

Adapun posisi cadangan devisa (cadev) Indonesia hingga akhir Juni 2026, dilaporkan mencapai US$145,6 miliar. “Setara dengan pembiayaan 5,6 bulan impor, atau 5,4 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah Indonesia,” pungkasnya.

Google

Tambahkan Inilah.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.

Tambahkan Sekarang

Visited 1 times, 1 visit(s) today