Dicecar MK soal Kuota Internet Hangus, ATSI Beri Respons Dingin

Dicecar MK soal Kuota Internet Hangus, ATSI Beri Respons Dingin

Asosiasi Penyelenggara Telekomunikasi Seluruh Indonesia (ATSI) memberikan respons atas sejumlah pertanyaan dan pernyataan yang disampaikan hakim Mahkamah Konstitusi (MK) dalam sidang pengujian Undang-Undang Cipta Kerja (Ciptaker) terkait polemik kuota internet hangus.

Dalam persidangan tersebut, ATSI bersama sejumlah operator seluler seperti Telkomsel, XL, dan Indosat mendapat berbagai pertanyaan dari hakim. Salah satunya disampaikan Hakim MK Arsul Sani yang mempertanyakan ‘apa ruginya’ perusahaan telekomunikasi jika skema sisa kuota internet hangus dihapuskan.

Direktur Eksekutif ATSI, Marwan O. Baasir, menegaskan pihaknya masih melakukan pembahasan dan analisis internal terkait hal tersebut.

“Kami masih menganalisa dan membahas internal sementara ini. Mungkin beberapa hari lagi ya,” kata Marwan saat dihubungi Inilah.com di Jakarta, Senin (20/4/2026).

Kuota Internet Hangus

Sebelumnya, Istilah ‘kuota internet hangus’ juga telah dibantah keras oleh para penyedia layanan telekomunikasi. Dalam sidang, sejumlah operator seluler menilai terminologi tersebut keliru dan menyesatkan.

Telkomsel yang diwakili Vice President SIMPATI Product Marketing Adhi Putranto mengatakan terminologi paket/kuota hangus ataupun penghapusan kuota secara sepihak yang saat ini beredar di masyarakat tidak tepat.

Mengingat yang sebenarnya terjadi adalah berakhirnya hubungan kontraktual dalam penyediaan jasa layanan internet oleh dan antara operator seluler dan pelanggan sesuai dengan volume dan jangka waktu yang sejak awal telah dipilih oleh pelanggan.

“Terminologi paket/kuota hangus ataupun penghapusan kuota secara sepihak yang saat ini beredar di masyarakat menurut hemat kami tidak tepat,” ujar Adhi di Ruang Sidang Pleno MK, Jakarta.

Tak Dapat Keuntungan Tambahan 

Lebih jauh dia menjelaskan secara teknis, sisa volume atas hak akses terhadap jaringan telekomunikasi yang tidak digunakan pelanggan juga tidak memungkinkan untuk disimpan, dialihkan, dan dikumpulkan, sehingga tidak mungkin digunakan atau diperjualbelikan kembali oleh operator seluler.

Dengan demikian, operator seluler tidak memperoleh keuntungan tambahan dari sisa volume (data) yang tidak digunakan pelanggan dalam jangka waktu tertentu yang telah dipilih oleh pelanggan.

Dalam memilih paket tersebut, pelanggan juga diberikan kebebasan untuk memilih opsi layanan internet sesuai dengan kebutuhan dan daya belinya masing-masing.

Jika paket atau kuota jasa layanan internet yang telah dipilih pelanggan volumenya telah mencapai maksimal dan/atau jangka waktunya telah berakhir, maka pemberian jasa akses dan layanan internet yang sebelumnya didedikasikan untuk pelanggan terhadap kapasitas jaringan juga menjadi berakhir.

“Berakhirnya masa berlaku paket bukan merupakan pengambilan dan/atau pengurangan manfaat secara paksa, melainkan konsekuensi dari selesainya durasi akses yang telah disepakati oleh pelanggan,” tutur Adhi.
 

Visited 8 times, 1 visit(s) today