DPR Apresiasi PLN Mampu Tekan Emisi Karbon dan Jaga Lingkungan di PLTU Suryalaya

DPR Apresiasi PLN Mampu Tekan Emisi Karbon dan Jaga Lingkungan di PLTU Suryalaya


Anggota Komisi XII DPR, Ramson S memberian apresiasi terhadap kebijakan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Suralaya di Cilegon, Banten yang ramah lingkungan. Pabrik setrum milik PLN Group itu, mampu menekan emisi karbon.

“Kami melihat adanya peningkatan signifikan dari sisi lingkungan hidup dan teknologi pengurangan polusi, ketimbang empat tahun lalu. PLTU Suralaya sudah berada dalam jalur transisi energi, menuju energi yang lebih bersih,” ungkap Ramson di Jakarta, dikutip Sabtu (13/9/2025).

Selain memastikan penyediaan energi listrik yang stabil hingga 20 persen untuk wilayah Jawa-Bali, PLTU Suralaya juga dinilai memperhatikan kebutuhan sosial masyarakat sekitar.

“Fasilitas olahraga, sistem penyaringan air bersih, hingga pengelolaan sampah yang memadai menjadi bukti kepedulian terhadap lingkungan dan warga setempat,” paparnya.

Dia mengatakan, DPR juga menyoroti penerapan teknologi di PLTU Suralaya yang mampu menekan emisi dari pembakaran batubara. Hal ini sejalan dengan komitmen pemerintah mencapai target net zero emission pada tahun 2050.

“Memang transisi energi butuh tahapan. Namun kami melihat progres nyata di Suralaya, dari teknologi pengurangan emisi hingga kesiapan menjaga keterjaminan energi untuk Pulau Jawa, khususnya Banten dan Jakarta,” kata Ramson.

Dengan capaian ini, lanjutnya, Komisi XII DPR menilai PLTU Suralaya tidak hanya menjadi pilar pasokan energi nasional, tetapi juga menunjukkan komitmen dalam mendukung agenda transisi energi dan menjaga keberlanjutan lingkungan.

Sementara Wakil Ketua Komisi XII DPR asal Fraksi PAN, Putri Zulkifli Hasan, menyebutkan, keberadaan PLTU Suralaya sangat pending dalam menjaga pasokan listrik untuk Jawa dan Bali.

Dia bilang, PLTU ini, memiliki kapasitas sekitar 6.000 MW, menjadi salah satu yang terbesar di Asia Tenggara, sekaligus penopang utama pasokan listrik di Jawa hingga Bali.

“PLTU Suralaya ini menyuplai sekitar 20% kebutuhan listrik Jawa Bali, khususnya untuk kawasan industri Banten serta wilayah Jabodetabek. Maka, keberlangsungan operasionalnya sangat penting bagi ketahanan energi nasional,” ujar Putri.

Dia mengingatkan, pengelola PLTU Suralaya tetap fokus dalam menjaga keseimbangan antara ketahanan energi dengan keberlanjutan lingkungan. Penggunaan teknologi co-firing biomassa dan pengolahan sampah untuk mengurangi emisi gas rumah kaca, perlu dilanjutkan.

“Tujuannya agar ketahanan energi pembangkit listrik ini juga diiringi dengan ekosistem yang baik dan berkelanjutan,” tambahnya.

 

 

Visited 3 times, 1 visit(s) today