Anggota Tim Khusus Pelaksana mengukur tingkat paparan radiasi terhadap temuan yang tercemar Cs-137 di Kawasan Industri Modern Cikande, Kabupaten Serang, Banten, Kamis (2/10/2025). (Foto: Antara)
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com
Anggota Komisi XII DPR Sugeng Suparwoto mengimbau warga Cikande, Serang, Banten, tidak terlalu mengkhawatirkan penemuan Cesium-137 (Cs-137). Peristiwa ini tidak akan menjadi bencana seperti Chernobyl, Ukraina pada April 1986.
“Masyarakat tidak perlu khawatir bahwa di Cikande seolah akan terjadi bencana seperti di Chernobyl, akibat adanya kontaminasi Cesium-137 (Cs-137). Pemerintah, dalam hal ini BRIN, Bapeten dan Kementerian Lingkungan Hidup (LH) serta instansi lain, telah melakukan langkah cepat dan cermat untuk melakukan ‘dekontaminasi’ di titik yang ditengarai terpapar Cs-137 tersebut,” ujar Sugeng kepada inilah.com di Jakarta, Jumat (17/10/2025).
Termasuk, kata politikus Partai NasDem, mengidentifikasi kemungkinan-kemungkinan dari mana sumber Cesium, dan kemungkinan penyebarannya. Berdasarkan informasi yang telah teridentifikasi bahwa Cesium tersebut semula berasal dari bahan baku peleburan besi di kawasan industri Cikande, yakni berupa besi bekas (scrap metal) yang diimpor dari Filipina.
“Namun demikian, ini menjadi warning bagi kita semua, yakni menyangkut pengawasan terhadap bahan-bahan berbahaya, terlebih menyangkut radio aktif, termasuk Cesium 137 ini,” kata dia.
Sugeng mengaku, Komisi XII sudah berulang kali dalam berbagai rapat mengingatkan kapasitas Bapeten agar terus ditingkatkan, baik menyangkut sumber daya manusianya, peralatan, maupun tata kelolanya.
“Bapeten kita minta terus melakukan inspeksi secara intens terhadap area, barang berupa peralatan maupun limbah yang mengandung unsur radio aktif; termasuk di sektor kesehatan, pertanian, industri dan juga migas,” tegasnya.
“Terlebih lagi, kita akan segera membangun Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) untuk memenuhi kebutuhan energi listrik yang terus meningkat dan rendah karbon,” pungkas Sugeng.
Sebelumnya, Wakil Menteri Perindustrian Faisol Riza menegaskan, kasus radiasi yang diduga berasal dari limbah reaktor nuklir ini harus menjadi peringatan keras bagi seluruh pelaku industri di tanah air untuk lebih waspada.
“Ini sebenarnya sudah jadi kewajiban sejak beberapa tahun lalu sebelum pemerintahan Pak Prabowo, yaitu comply terhadap standar industri hijau. Standar industri hijau itu macam-macam, termasuk gas rumah kaca,” kata Faisol di Balai Kota Jakarta, Rabu (15/10/2025).
Faisol secara khusus meminta semua kawasan industri untuk segera mengambil langkah proaktif, melakukan pengecekan lingkungan menyeluruh, agar memastikan tidak ada ancaman radiasi berbahaya di area mereka.
“Sekarang kita temukan-temukan mengenai radiasi radioaktif Cs-137. Tentu ini menjadi peringatan untuk semua industri. Kami sekali lagi meminta agar sekarang seluruh industri, seluruh kawasan industri berlaku aktif atau proaktif untuk mengecek, untuk menyiapkan agar di lingkungannya tidak ditemukan radiasi,” tegasnya.
Ke depan, Kemenperin akan menerapkan mekanisme pelaporan melalui self announcement. Setiap perusahaan diharapkan secara mandiri menyatakan status keamanan radiasi di lokasinya.
“Self announcement atau pernyataan dari setiap industri saya kira akan membantu pemerintah. Juga membantu menyampaikan kepada dunia usaha, dunia luar terutama bahwa Indonesia aman dari radiasi Cs-137 radioaktif yang sempat kemarin menjadi pertanyaan dari FDA di Amerika Serikat,” ujarnya.
Kebijakan ini tidak hanya menyasar industri berskala besar, Faisol bilang, pemerintah juga siap memfasilitasi Usaha Kecil dan Menengah (UKM) yang mungkin belum memiliki kemampuan untuk melakukan pengecekan radiasi secara mandiri.
“Yang merasa belum mampu, kami terbuka untuk membantu, memfasilitasi dengan badan yang menangani,” tutur Faisol.











