Artem Dovbyk dari AS Roma menendang dan gagal mengeksekusi penalti kedua, sementara kiper Berke Özer dari LOSC Lille menyaksikan bola mendarat dalam pertandingan Fase Liga MD2 Liga Europa UEFA 2025/26 antara AS Roma dan LOSC Lille di Stadio Olimpico pada 2 Oktober 2025 di Roma, Italia. (Foto: Silvia Lore/Getty Images)
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com
AS Roma mengalami malam dramatis ketika kalah 0-1 dari Lille di Stadion Olimpico pada laga fase grup Liga Europa, Jumat (3/10) dini hari WIB. Drama terbesar terjadi saat Giallorossi mendapat penalti yang harus diulang hingga tiga kali—dan sempat mengganti algojo di percobaan terakhir.
Awalnya Artem Dovbyk maju sebagai eksekutor dan dua kali gagal menaklukkan kiper Lille, Berke Özer.
Karena terjadi pelanggaran encroachment (pemain masuk ke kotak penalti sebelum bola ditendang), wasit Erik Lambrechts memutuskan penalti diulang. Pada percobaan ketiga, giliran Matias Soule yang mengambil alih, namun tendangannya juga dimentahkan Özer.
Banyak yang bertanya: bolehkah sebuah tim mengganti penendang saat penalti diulang? Menurut Law 14 IFAB (International Football Association Board), jawabannya: boleh.
Aturannya, selama masih ada pemain yang berada di lapangan saat insiden terjadi, tim berhak menunjuk siapa pun sebagai algojo. Tidak ada batasan jumlah pergantian eksekutor, asalkan pemain yang maju sudah melapor ke wasit.
“Tim yang mendapat keuntungan dari keputusan pengulangan penalti berhak mengganti penendang sebanyak yang diinginkan, selama pemain tersebut masih berada di lapangan,” jelas mantan wasit Ligue 1, Saïd Ennjimi, kepada L’Équipe.
Kasus ini tergolong langka di level elite. Özer pun mencatat sejarah dengan menggagalkan tiga penalti beruntun dalam kurun waktu tiga menit, memastikan kemenangan Lille di kandang Roma.
Kekalahan ini membuat AS Roma tertahan dengan tiga poin, sedangkan Lille kokoh dengan enam poin dari dua laga fase grup Liga Europa.














