Tampilan Shinta Widjaja saat menghadiri pembukaan the Fourth International Forum on Financing for Development (#FFD4) di kota Sevilla (Foto: Instagram / shintawidjajakamdani)
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com
Kalangan pengusaha yang tergabung dalam Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) masih miris dengan ketidakpastian global. Mulai penerapan tarif resiprokal oleh pemerintah AS hingga geopolitik perang Ukraina-Rusia dan dinamika Timur Tengah.
Atas ketidakpastian global yang semakin kompleks, Ketua Umum Apindo, Shinta Widjaja Kamdani, membuat pengusaha sulit bergerak. Akibat faktor eksternal tu, pengusaha di Indonesia terpaksa menunda sejumlah rencana ekspansi.
“Tantangan masih banyak, terutama ketidakpastian global. Masalah tarif Trump, konflik Ukraina-Rusia maupun Timur Tengah. Termasuk Palestina dan Israel. Berimbas ke Indonesia,” kata Shinta saat ditemui di Jakarta, dikutip Rabu (8/10/2025).
Shinta menilai, sejumlah faktor eksternal itu menciptakan ketidakpastian bagi arus modal dan perdagangan global. Alhasil, pelaku industri di Indonesia harus lebih berhati-hati saat mengambil keputusan terkait ekspansi bisnis maupun investasi.
Apalagi perkembangan terkini di negeri Paman Sam, muncul wacana penutupan sementara pemerintah AS atau government shutdown, dikhawatirkan menghambat negosiasi tarif yang masih berjalan antara Indonesia dan AS.
“Tentu ada dampaknya, saat ini pemerintah masih meneruskan negosiasi tarif Trump. Jadi, walaupun kemarin sudah ditetapkan 19 persen, tapi kita masih melanjutkan terus menegosiasikan tambahan penurunan tarif terutama dari produk yang tidak diproduksi di AS, namun diproduksi Indonesia,” kata Shinta.
Ia menyebut beberapa komoditas seperti produk tekstil, karet, dan kopi menjadi fokus utama negosiasi. Namun, proses perundingan tertunda akibat dampak politik dan fiskal di AS. Sementara itu, dari sisi domestik, daya beli masyarakat masih menjadi isu utama.
Meski demikian, Shinta mengapresiasi langkah pemerintah yang merilis paket kebijakan ekonomi untuk memperkuat daya tahan industri. Ia menekankan pentingnya pengawalan pelaksanaan kebijakan agar benar-benar terealisasi dan mendorong daya beli masyarakat.
“Tentunya ini harus terus kita kawal untuk bisa realisasi dan terutama peningkatan daripada daya beli yang ada. Kita lihat dari indeks manufaktur maupun indeks kepercayaan konsumen juga ini perlu terus ditingkatkan,” ujarnya.
Industri padat karya, kata dia, menjadi sektor yang paling sensitif terhadap penurunan daya beli. Di mana, dunia usaha harus berhati-hati menavigasi situasi ekonomi yang tidak sepenuhnya stabil.
“Sebenarnya kita harus bersama-sama mencoba untuk memanfaatkan segala potensi maupun insentif yang diberikan pemerintah ini supaya bisa terus mendorong walaupun kondisi sedang tidak baik-baik saja,” tambahnya.














