Ekonomi RI Tumbuh 5,61 Persen, AEPI: Di Atas Dunia, Kenapa tak Disyukuri?

Ekonomi RI Tumbuh 5,61 Persen, AEPI: Di Atas Dunia, Kenapa tak Disyukuri?

Iwan Medium.jpeg

Minggu, 10 Mei 2026 – 07:09 WIB

Analis dari Asosiasi Ekonomi Politik Indonesia (AEPI), Salamuddin Daeng. (Foto: Antara).

Analis dari Asosiasi Ekonomi Politik Indonesia (AEPI), Salamuddin Daeng. (Foto: Antara).

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com

+ Gabung

Ekonom Asosiasi Ekonomi Politik Indonesia (AEPI), Salamuddin Daeng, menilai capaian pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I-2026 sebesar 5,61 persen sebagai sebuah prestasi.

Menurut dia, angka tersebut berada jauh di atas rata-rata pertumbuhan ekonomi global maupun negara berkembang dan maju berdasarkan data International Monetary Fund (IMF).

“IMF mencatat pertumbuhan riil negara berkembang rata-rata 3,9 persen, negara maju 1,8 persen, dan ekonomi dunia sekitar 3,1 persen,” kata Salamuddin di Jakarta, Sabtu (9/5/2026).

Dengan perbandingan tersebut, Salamuddin menilai kinerja ekonomi Indonesia tergolong kuat di tengah tekanan global, termasuk konflik geopolitik dan perlambatan ekonomi dunia.

“Di tengah gejolak dan konflik global, ekonomi Indonesia masih mampu tumbuh dengan baik. Ini patut diapresiasi,” ujarnya.

Ia menegaskan, pertumbuhan 5,61 persen jelas berada di atas rata-rata global. Karena itu, menurutnya, capaian tersebut tidak semestinya dipandang negatif.

“Kalau nilai seseorang di atas rata-rata, tentu itu berarti baik. Dengan data IMF, posisi Indonesia tergolong bagus,” katanya.

Menanggapi keraguan sejumlah pihak terhadap validitas data pertumbuhan ekonomi, Salamuddin mempersilakan perdebatan dilakukan. Namun, ia menekankan bahwa kritik harus berbasis data.

“Kalaupun misalnya pertumbuhan hanya 5 persen, itu tetap di atas rata-rata global. Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) tidak bisa diperdebatkan hanya dengan perasaan,” ujarnya.

Ia menyinggung pandangan subjektif yang kerap muncul di masyarakat, seperti persepsi aktivitas ekonomi yang terasa sepi saat periode tertentu.

“Misalnya, karena Lebaran terasa sepi, lalu disimpulkan ekonomi melemah. Itu tidak bisa dijadikan dasar,” kata dia.

Sebelumnya, Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti menyampaikan bahwa pertumbuhan ekonomi pada triwulan I-2026 menunjukkan tren yang solid secara tahunan.

“Jika dibandingkan dengan triwulan I tahun lalu, ekonomi Indonesia pada triwulan I 2026 tumbuh sebesar 5,61 persen,” ujarnya.

Dari sisi pengeluaran, konsumsi rumah tangga masih menjadi penopang utama pertumbuhan. Aktivitas masyarakat selama Ramadan, Nyepi, hingga Idulfitri mendorong kinerja sektor perdagangan, transportasi, dan pariwisata.

BPS mencatat perjalanan wisatawan domestik tumbuh 13,14 persen secara tahunan. Selain itu, jumlah pengguna transportasi umum di berbagai moda juga meningkat seiring mobilitas masyarakat yang lebih tinggi.

Momentum konsumsi turut didukung kebijakan pemerintah, seperti diskon tiket transportasi dan pencairan tunjangan hari raya. Di sisi lain, suku bunga acuan Bank Indonesia yang berada di level 4,75 persen dinilai membantu menjaga stabilitas daya beli masyarakat.

Google

Tambahkan Inilah.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.

Tambahkan Sekarang

Visited 8 times, 1 visit(s) today