Nilai tukar rupiah menguat 62 poin ke level Rp17.325 per dolar AS pada perdagangan Kamis (7/5/2026) pagi. (Foto: Antara)
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com
Pada penutupan perdagangan pasar spot, Jumat (8/5), nilai tukar (kurs) rupiah terhadap dolar AS kembali melemah ke level Rp17.382 per dolar AS, atau turun 0,29 persen dibandingkan hari sebelumnya di Rp17.333 per dolar AS.
Managing Director PEPS (Political Economy and Policy Studies), Anthony Budiawan, menilai pelemahan rupiah tidak terlepas dari persoalan struktural dalam perekonomian Indonesia.
Menurut dia, terdapat dua masalah utama, yakni defisit neraca primer dan tingginya arus keluar modal (capital outflow).
“Jadi, masalah geopolitik di Timur Tengah itu hanya mempercepat anjloknya rupiah. Masalah utamanya ada di internal sendiri,” ujar Anthony, dikutip dari sebuah podcast di Jakarta, Sabtu (9/5/2026).
Anthony memproyeksikan nilai tukar rupiah berpotensi melemah hingga kisaran Rp17.500 bahkan Rp18.000 per dolar AS.
“Bisa pekan depan atau bulan ini rupiah menyentuh Rp18.000 per dolar AS. Apakah ini ilusi? Saya kira tidak. Dulu tidak ada yang menyangka rupiah akan tembus Rp17.000, ternyata terjadi. Jadi, bukan tidak mungkin menuju Rp18.000 per dolar AS,” ujarnya.
Sementara itu, analis mata uang Ibrahim Assuaibi memproyeksikan pergerakan rupiah yang lebih moderat. Ia memperkirakan rupiah masih akan melemah pada awal pekan depan.
“Untuk perdagangan Senin (11/5), rupiah akan fluktuatif namun ditutup melemah di rentang Rp17.380 hingga Rp17.430 per dolar AS,” kata Ibrahim.
Ia menjelaskan, tekanan terhadap rupiah dipicu meningkatnya ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran yang meredupkan harapan gencatan senjata serta pembukaan kembali Selat Hormuz.
Sebelumnya, optimisme sempat muncul setelah kedua negara hampir mencapai kesepakatan damai.
Dari eksternal, prospek rupiah juga dipengaruhi perbedaan pandangan pejabat Federal Reserve (The Fed).
Presiden The Fed Cleveland, Beth Hammack, menyatakan suku bunga AS kemungkinan akan tetap stabil dalam waktu dekat. Sementara itu, Presiden The Fed Minneapolis, Neel Kashkari, menilai inflasi masih terlalu tinggi.
Menjelang akhir pekan, perhatian pasar tertuju pada data ketenagakerjaan Amerika Serikat periode April 2026.
“Para ekonom memperkirakan penambahan 62.000 lapangan kerja di AS pada April, sementara tingkat pengangguran diproyeksikan tetap di 4,3 persen. Laporan ini dapat menjadi penentu arah kebijakan suku bunga The Fed selanjutnya,” ujar Ibrahim.
Dari sisi domestik, tekanan terhadap rupiah juga dipengaruhi peningkatan utang pemerintah.
Bank Indonesia mencatat posisi utang pemerintah mencapai Rp9.920,42 triliun per 31 Maret 2026, naik hampir 3 persen dibandingkan Desember 2025 sebesar Rp9.637,9 triliun. Rasio utang tersebut setara dengan 40,75 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).
Tambahkan Inilah.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.











