Ekonomi Syariah Mulai Bergeser ke Sektor Riil, Tantangan Inklusi Masih Menganga

Ekonomi Syariah Mulai Bergeser ke Sektor Riil, Tantangan Inklusi Masih Menganga

Reza Medium.jpeg

Sabtu, 27 Desember 2025 – 02:00 WIB

Ilustrasi ekosistem ekonomi syariah dalam negeri. (Foto: Inilah.com/Generator AI).

Ilustrasi ekosistem ekonomi syariah dalam negeri. (Foto: Inilah.com/Generator AI).

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com

+ Gabung

Arah pengembangan ekonomi dan keuangan syariah Indonesia mulai bergeser. Jika sebelumnya lebih didominasi sektor keuangan, kini fokus diarahkan ke sektor riil, terutama industri halal, yang dinilai kian strategis bagi pertumbuhan ekonomi nasional.

Sorotan itu tercantum dalam Catatan Akhir Tahun Ekonomi Syariah Indonesia yang dirilis Center for Sharia Economic Development (CSED) INDEF. Ekonom CSED INDEF, Handi Risza menyebut, pergeseran ini menandai fase baru ekonomi syariah yang mulai masuk ke arus utama perekonomian nasional.

“Perkembangan ekonomi dan keuangan syariah di Indonesia dimulai dan lebih didominasi oleh sektor keuangan tetapi kini mulai bergerak menuju sektor riil dan arus utama perekonomian nasional. Sektor industri halal mulai memainkan peran penting terhadap pertumbuhan ekonomi nasional,” kata Handi dalam keterangannya, dikutip Jumat (26/12/2025).

Momentum tersebut perlu dijaga agar ekonomi dan keuangan syariah pada 2026 tumbuh secara inklusif dan berkelanjutan. Peluang penguatan industri halal dinilai semakin terbuka, terutama setelah Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH) bertransformasi menjadi Lembaga Pemerintah Non Kementerian di bawah Presiden dengan kewenangan setingkat menteri.

Selain itu, program Makan Bergizi Gratis (MBG) dengan anggaran mencapai Rp335 triliun dinilai berpotensi menjadi pendorong besar bagi rantai pasok industri halal domestik, berpotensi menciptakan permintaan masif terhadap produk halal nasional.

Dari sisi kebijakan, ekonomi dan keuangan syariah kini telah terintegrasi dalam Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) 2025–2045 serta RPJMN 2025–2029. Integrasi ini mempertegas ambisi Indonesia memantapkan posisi sebagai pusat ekonomi syariah global, sejalan dengan statusnya sebagai negara dengan populasi muslim terbesar di dunia.

Capaian Indonesia juga tercermin di tingkat global. Dalam laporan State of the Global Islamic Economy (SGIE) Report 2024/2025 yang dirilis DinarStandard, Indonesia kembali menempati peringkat ketiga dunia dengan skor Global Islamic Economy Indicator (GIEI) 99,9, melonjak 19,8 poin dibandingkan tahun sebelumnya.

Lonjakan paling menonjol datang dari sektor investasi halal. Sepanjang 2023, tercatat 40 transaksi investasi halal dengan nilai mencapai USD 1,6 miliar di sektor makanan halal, kosmetik, farmasi, teknologi halal, dan gaya hidup muslim. Capaian tersebut mencerminkan meningkatnya kepercayaan investor global terhadap ekosistem halal Indonesia.

Meski demikian, Handi menegaskan masih ada pekerjaan rumah besar, terutama pada aspek inklusi. Berdasarkan Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) OJK 2025, tingkat literasi keuangan syariah telah mencapai 43,42 persen, namun inklusinya baru 13,41 persen. Artinya, terdapat kesenjangan 30,01 persen masyarakat yang memahami keuangan syariah tetapi belum menggunakannya.

“Ini tantangan utama. Diperlukan terobosan dan inovasi masif untuk meningkatkan inklusi, terutama dengan memperluas akses ke daerah,” tegas Handi yang juga Wakil Rektor Universitas Paramadina.

Dari sisi kelembagaan, keberadaan Bank Syariah Indonesia (BSI) sebagai bank BUMN dengan sovereign backing kuat dinilai telah mengangkat posisi perbankan syariah nasional ke level global. Sementara itu, rencana pembentukan Bank Syariah Nasional (BSN) diyakini dapat memperkuat multiplier effect pembiayaan, khususnya di sektor perumahan.

Ekosistem ekonomi syariah juga ditopang peran Lembaga Keuangan Sosial Syariah berbasis zakat, infak, sedekah, dan dana sosial keagamaan. Kajian PEBS FEB UI 2025 menunjukkan zakat terbukti efektif menjangkau kelompok miskin ekstrem dan berfungsi sebagai social safety net.

Ke depan, Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) diharapkan menjadi katalis pembiayaan industri halal nasional. Dengan target investasi jumbo, Danantara diproyeksikan menyalurkan sebagian pembiayaannya ke sektor keuangan syariah dan industri halal.

“Dengan target investasi Rp720 triliun pada 2026, Danantara diharapkan dapat membiayai sektor keuangan syariah dan industri halal nasional. Saat ini, Danantara juga menyiapkan investasi proyek Kampung Haji senilai Rp20 triliun,” pungkas Handi.

Visited 2 times, 1 visit(s) today