Filosofi Sunda Buhun dalam Kepemimpinan

Filosofi Sunda Buhun dalam Kepemimpinan


Ketokohan seorang pemimpin di hadapan rakyat menuntut ketajaman intuisi dalam tindakan: tidak berbohong, tidak semena-mena, mampu adil dan bijaksana, berbahasa baik, tidak sinis, bukan pemarah, serta menjadi teladan yang bermanfaat dalam setiap langkahnya. Dengan begitu, rakyat termotivasi, terinspirasi, bukan terintimidasi.

Dalam Jurnal Kajian Komunikasi Vol. 8 berjudul Parigeuing dalam Konteks Kepemimpinan dan Komunikasi Politik Berdasarkan Naskah Sunda Kuno, konsep figur pemimpin ideal meliputi:

  • Ahiman: tegas, panceg hate (ucapan sesuai tindakan), tidak plin plan.
  • Animan: lemah lembut, tidak kasar.
  • Istiwa: jujur.
  • Lagiman: terampil, cekatan, gesit.
  • Mahiman: berwawasan luas, berpengetahuan mumpuni.
  • Prakamya: ulet dan tekun.
  • Prapti: tepat sasaran, tajam berpikir.
  • Wasitwa: berbesar hati dan arif (Permana dkk., 2020).

Guru Cucuk: Pemimpin dalam Tradisi Adat

Istilah Guru Cucuk bermakna pemimpin bagi orang Sunda adalah tokoh yang lahir untuk memimpin dengan kekuatan lahiriah dan batiniah. Kepemimpinan ini lahir secara alami, tidak direkayasa.

Masyarakat adat Kasepuhan Cisungsang dikenal sebagai Pengutas Jalan—pembuka hutan di kaki Gunung Halimun yang kemudian dimanfaatkan menjadi lahan pertanian. Hingga kini, masyarakat adat Cisungsang tetap menjaga keseimbangan antara manusia dan alam.

Pada tahun 2022, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan menerbitkan SK Nomor 10084/MENLHK-PSKL/PKTHA/PSL.1/2022 tentang penetapan status hutan adat seluas ± 1.599 hektare di wilayah Kasepuhan Cisungsang. Ini menegaskan pengakuan atas hak-hak masyarakat hukum adat sebagaimana sebelumnya diatur melalui Perda Kabupaten Lebak Nomor 8 Tahun 2015.

Ungkapan sunda buhun dug hulu pet nyawa congeang balik aseupan menjadi pedoman dalam kepemimpinan adat. Dipesankan oleh almarhum Apih Adeng Jayasasmita pada medio 2007 saat Seren Taun, ungkapan ini bermakna bahwa sejak lahir, manusia dituntut berjuang mempertahankan hidup dengan bekerja keras.

Hidup bermakna sederhana: memperoleh sesuap nasi dari jerih payah yang halal, bukan hasil curang atau korupsi. Filosofi ini menanamkan kesederhanaan, kesabaran, dan kejujuran dalam kepemimpinan dan kehidupan sehari-hari.

Dinamika Sosial-Ekonomi dan Lingkungan

Mayoritas masyarakat adat Cisungsang bermata pencaharian sebagai petani, berkebun, atau beternak. Selepas Reformasi, sempat terjadi euforia penambangan emas tradisional di bekas tambang PT Antam, meski berisiko nyawa. Namun sejak 2019, setelah terbit Perpres Nomor 21 Tahun 2019 tentang Pengurangan dan Penghapusan Merkuri, aktivitas ini meredup, dan masyarakat kembali ke pertanian.

Kehidupan adat kini berangsur normal. Pemuda kembali ke sawah dan kebun, melanjutkan tradisi leluhur. Ikatan sosial masih kuat melalui konsep Rendangan (keluarga besar) yang menjadi struktur komunikasi antara masyarakat kampung dengan kepala adat.

Kepemimpinan Adat dan Figur Teladan

Sejak 1988, Kasepuhan Cisungsang dipimpin Abah Usep Suyatma, menggantikan ayahnya Olot Sardani, tokoh adat sekaligus penasehat Presiden Soeharto pada era Orde Baru.

Kehadiran tokoh nasional seperti Letjen Solihin GP juga meninggalkan jejak kuat di Cisungsang. Ia dikenal akrab dengan masyarakat adat, sederhana dalam gaya hidup, dan berjasa membangun saluran irigasi pada 1980-an yang masih digunakan hingga kini.

Upacara adat Seren Taun menjadi puncak refleksi kepemimpinan adat. Tahun 2025, rangkaian akan berlangsung 22–29 September, meliputi upacara Rasul Pare, Pantun/Bubuka, Balik Taun Rendangan, Ngaremokeun, hingga puncak syukur panen.

Acara budaya turut meramaikan: Gondang Debus, Wayang Golek, Parade Dalang, Angklung Buhun, Jaipongan, Pencak Silat, atraksi Lais, Kirab Budaya Nusantara, hingga seminar budaya dan pameran UMKM.

Seren Taun bukan hanya ritual syukur, tetapi simbol kepemimpinan adat yang berpijak pada kesederhanaan, keberanian, dan keselarasan dengan alam—falsafah Sunda Buhun yang tetap relevan di era modern.

Visited 2 times, 1 visit(s) today