Sinyal positif dari krisis Gaza mulai terlihat. Kelompok perlawanan Palestina, Hamas, mengklaim telah menerima informasi dari mediator internasional bahwa perlintasan perbatasan Rafah –penghubung vital antara Gaza dan Mesir– akan dibuka kembali untuk dua arah pada pekan depan. Kabar ini muncul segera setelah gencatan senjata yang disepakati dengan Israel resmi berlaku.
Sebuah sumber Hamas yang dikutip oleh TV Al-Aqsa milik kelompok tersebut mengatakan pada Jumat (10/10/2025) bahwa perlintasan Rafah diperkirakan akan dibuka kembali pada pertengahan pekan depan. Pembukaan ini dimaksudkan untuk memungkinkan pergerakan orang, baik masuk maupun keluar dari wilayah kantong yang terkepung tersebut.
Meskipun detail operasional dan mekanisme siapa saja yang diizinkan melintas belum diungkap secara rinci, keputusan ini jelas memberikan secercah harapan bagi lebih dari dua juta penduduk Gaza.
Selain pergerakan orang, mediator juga menjanjikan kelancaran arus bantuan kemanusiaan dan pasokan penting. Sumber Hamas itu menyebutkan bahwa bantuan vital, termasuk bahan bakar dan gas, akan mulai masuk ke Gaza secara bebas terhitung sejak Sabtu (11/10/2025).
Pembicaraan intensif juga sedang berlangsung untuk memulihkan aliran listrik yang sangat dibutuhkan di wilayah tersebut.
Israel Mundur, Warga Kembali ke Utara
Pengumuman ini datang menyusul konfirmasi dari militer Israel yang memastikan bahwa gencatan senjata dengan Hamas mulai berlaku pada Jumat siang waktu setempat.
Militer Israel menyatakan pasukannya telah dikerahkan kembali di sepanjang garis baru, sesuai dengan perjanjian gencatan senjata dan pembebasan sandera. Meski demikian, pasukan di Israel selatan tetap bersiaga untuk merespons setiap ancaman langsung.
Dampak langsung dari gencatan senjata ini adalah perpindahan masif. Juru bicara Badan Pertahanan Sipil yang dikelola Hamas, Mahmud Bassal, melaporkan bahwa sekitar 200 ribu warga Palestina segera kembali ke Gaza utara.
Para pengungsi mulai bergerak ke utara ketika pasukan Israel mundur dari beberapa area. Tim kemanusiaan pun sigap membantu keluarga-keluarga dan berupaya membuka kembali jalan-jalan utama.
Saksi mata menggambarkan pemandangan pergerakan yang padat. Ribuan orang terlihat berjalan kaki atau berkendara memadati jalan Al-Rashid dan Salah al-Din, berbondong-bondong menuju puing-puing rumah mereka.
Kesepakatan Besar di Kairo
Gencatan senjata ini adalah buah dari perundingan maraton selama berhari-hari yang dimediasi di Mesir. Perjanjian tersebut mencakup pertukaran tawanan dan rencana jangka panjang untuk membuka kembali penyeberangan perbatasan serta mengizinkan bantuan masuk ke Gaza.
Di bawah kesepakatan yang disepakati, Israel diwajibkan menghentikan pertempuran dan menarik diri sebagian dari Jalur Gaza. Sebagai imbalannya, Hamas akan membebaskan semua sandera yang tersisa. Pembebasan sandera ini akan ditukar dengan pelepasan sekitar 2.000 tahanan Palestina yang mendekam di penjara-penjara Israel.
Data otoritas kesehatan Gaza menyebutkan, dua tahun operasi militer Israel telah menyebabkan sebagian besar wilayah Gaza hancur lebur, menewaskan lebih dari 67.000 orang, serta menimbulkan krisis kekurangan makanan dan kebutuhan dasar yang parah.
Pembukaan Rafah dan masuknya bantuan adalah langkah awal yang krusial untuk mencegah tragedi kemanusiaan yang lebih besar.











