Gerindra Dorong Perkuat Struktur Ekonomi dan Diversifikasi Perdagangan untuk Dedolarisasi

Gerindra Dorong Perkuat Struktur Ekonomi dan Diversifikasi Perdagangan untuk Dedolarisasi

Clara Medium.jpeg

Kamis, 18 Juni 2026 – 23:09 WIB

Anggota Komisi XI DPR RI dari Fraksi Partai Gerindra, Kamrussamad di Gedung DPR, Jakarta, Kamis (18/6/2026). (Foto: Inilah.com/Clara Anna).

Anggota Komisi XI DPR RI dari Fraksi Partai Gerindra, Kamrussamad di Gedung DPR, Jakarta, Kamis (18/6/2026). (Foto: Inilah.com/Clara Anna).

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com

+ Gabung

Anggota Komisi XI DPR RI, Kamrussamad menilai, penguatan nilai tukar rupiah tidak bisa dilakukan hanya melalui kebijakan moneter jangka pendek.

Kamrussamad mengatakan, pemerintah perlu memperbaiki struktur ekonomi nasional, memperkuat manufaktur, serta memperluas diversifikasi perdagangan internasional agar ketergantungan terhadap dolar Amerika Serikat (AS), berkurang alias dedolarisasi.

Namun, menurutnya, perkembangan geopolitik dunia selama ratusan tahun, melahirkan berbagai blok dan kerja sama ekonomi baru, yang membuka peluang bagi negara-negara berkembang. Termasuk Indonesia, perlu mengurangi ketergantungan kepada satu mata uang dalam transaksi perdagangan internasional.

“Indonesia telah memilih rupiah sebagai mata uang nasional. Tantangannya sekarang adalah bagaimana menjaga stabilitas dan memperkuat nilai tukarnya di tengah dinamika ekonomi global,” ujar Kamrussamad di Kompleks Parlemen, Jakarta, Kamis (18/6/2026).

Lebih lanjut, politikus Partai Gerindra, menyoroti tren depresiasi rupiah terhadap dolar AS yang mengalami depresiasi hebat selama 20 tahun terakhir.

Pada 2004, kurs rupiah masih bertengger di level Rp8.000-an. Sepuluh tahun kemudian melemah menjadi Rp14.000-an per dolar AS. Kini, semakin ambruk hingga ke level nyaris Rp18.000-an per dolar AS.

Fenomena ini, kata dia, tidak semata-mata disebabkan faktor eksternal, melainkan juga mencerminkan perlunya pembenahan struktur ekonomi nasional. Selama 25 tahun terakhir, pertumbuhan ekonomi Indonesia masih sangat bergantung pada konsumsi rumah tangga.

Karena itu, kontribusi sektor industri manufaktur terhadap produk domestik bruto (PDB) perlu terus ditingkatkan agar ekonomi memiliki fondasi yang lebih kuat.

“Kalau industri manufaktur berkembang, maka penciptaan lapangan kerja formal juga akan meningkat secara signifikan. Ini yang akan memperkuat daya tahan ekonomi nasional,” kata dia.

Kamrussamad menilai, kebijakan hilirisasi sumber daya alam, penguatan sektor energi, ketahanan pangan, pertanian, dan perikanan merupakan langkah yang tepat untuk meningkatkan nilai tambah komoditas ekspor Indonesia.

Dengan demikian, Indonesia tidak hanya mengandalkan konsumsi domestik, tetapi juga memperoleh kontribusi lebih besar dari sektor produksi dan ekspor.

“Secara bertahap kita harus memperbesar penggunaan mata uang lokal dalam perdagangan internasional sehingga tidak sepenuhnya bergantung pada satu mata uang saja,” tutur dia.

Menurut Kamrussamad, kombinasi antara penguatan struktur ekonomi domestik, hilirisasi industri, peningkatan daya saing manufaktur, dan diversifikasi transaksi perdagangan internasional menjadi kunci agar rupiah lebih kuat dan Indonesia memiliki ketahanan ekonomi yang lebih baik di tengah gejolak global.

Google

Tambahkan Inilah.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.

Tambahkan Sekarang

Visited 2 times, 2 visit(s) today