Global Sumud Flotilla Dekati Garis Merah Gaza, Blokade Israel Terancam Patah

Global Sumud Flotilla Dekati Garis Merah Gaza, Blokade Israel Terancam Patah

Armada bantuan internasional Global Sumud Flotilla (GSF) dilaporkan semakin mendekat ke Jalur Gaza. Misi kemanusiaan yang melibatkan puluhan kapal ini bertekad bulat untuk menembus blokade Israel yang telah memperburuk krisis kelaparan di wilayah kantong Palestina tersebut.

Penyelenggara GSF mengumumkan pada Senin (29/9/2025) bahwa rombongan kapal mereka kini hanya berjarak 570 kilometer dari garis pantai Gaza. Jarak ini menempatkan armada tersebut dalam zona kritis yang rawan pencegatan oleh Angkatan Laut Israel.

Menuju Titik Pencegatan Sebelumnya

Tony La Piccirella, seorang aktivis Italia yang ikut serta dalam pelayaran ini, menyatakan melalui sebuah video bahwa GSF diperkirakan akan tiba pada hari Selasa di titik yang sama di mana kapal Madleen dan Handala dicegat dalam upaya sebelumnya. Ini adalah manuver berani, menantang status quo yang diberlakukan Israel.

GSF, yang total terdiri dari sekitar 50 kapal, berlayar membawa bantuan kemanusiaan dan pasokan medis yang sangat dibutuhkan oleh warga Gaza yang dilanda perang.

Pada Senin, sejumlah aktivis baru bergabung dari wilayah Mediterania, dan dua kapal tambahan merapat dari wilayah Siprus Yunani serta Turki. Bagian terbesar dari armada, yang membawa sekitar 100 orang, dijadwalkan akan berlayar penuh pada hari Selasa (30/9/2025).

La Piccirella menegaskan bahwa dukungan internasional terhadap misi ini semakin membesar. Ia mengungkapkan, selain kapal angkatan laut dari Italia dan Spanyol yang sudah memberikan perlindungan dan pengawalan, saat ini ada tiga negara lain yang sedang mempertimbangkan untuk mengirimkan kapal militer tambahan.

Ia tidak menyebutkan nama negara-negara tersebut, namun ini menunjukkan solidaritas global yang semakin meluas.

“Jadi, ini semakin besar. Dan ini bukan tentang kita, ini tentang Global Sumud Flotilla. Ini seperti sebuah gerakan yang melibatkan ratusan orang di laut dan jutaan orang di darat, dan ini tak terhentikan sampai pengepungan dipatahkan,” ujar Piccirella, menyiratkan bahwa tekanan sipil internasional kini menjadi faktor penentu.

Krisis Kelaparan dan Catatan Korban Jiwa

Upaya GSF untuk mendobrak blokade ini sangat mendesak. Sejak 2 Maret, Israel telah menutup sepenuhnya perlintasan Gaza, memblokir konvoi makanan dan bantuan, yang secara langsung memperparah kondisi kelaparan di Palestina.

Israel sendiri terus menghadapi kecaman keras dunia atas agresi brutal yang dilancarkan sejak Oktober 2023. Hingga kini, Angkatan Darat Israel telah menewaskan lebih dari 66.000 warga Palestina di Gaza, dengan sebagian besar korban adalah perempuan dan anak-anak. Pengeboman yang tiada henti telah menyebabkan Jalur Gaza tidak layak huni dan memicu penyebaran penyakit yang cepat.

Upaya-upaya sebelumnya untuk mengirimkan bantuan melalui jalur laut selalu gagal. Pada 26 Juli, kapal Handala dicegat Angkatan Laut Israel saat berada sekitar 70 mil laut dari Gaza dan dipaksa ke Pelabuhan Ashdod. Dengan didampingi kapal militer Eropa, GSF kali ini berharap dapat melampaui batas pencegatan dan berhasil mengirimkan nyawa bagi jutaan warga Gaza yang terperangkap dalam krisis kemanusiaan terbesar abad ini.
 

Visited 3 times, 1 visit(s) today