Hamas melalui anggota biro politiknya, Hossam Badran, menegaskan kesiapan kembali berperang jika Israel melanjutkan agresi di Gaza. (Foto: ecfr.eu)
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com
Kabar gencatan senjata di Jalur Gaza ternyata tidak serta-merta meredakan ketegangan politik. Kelompok militan Palestina, Hamas, melalui pernyataan resminya menegaskan kesiapan mereka untuk kembali berperang jika agresi militer Israel berlanjut. Mereka juga menolak tegas usulan yang menyerukan agar Hamas meninggalkan Gaza, yang merupakan bagian dari proposal gencatan senjata Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump.
Dalam wawancara eksklusif kepada AFP, anggota biro politik Hamas, Hossam Badran, mengakui bahwa masih banyak bagian dari proposal Trump yang belum disepakati, khususnya soal perlucutan senjata Hamas dan rencana pemerintahan Gaza pasca-perang.
Badran meramalkan negosiasi ke depan akan berjalan sangat sulit, terutama menyangkut isu senjata.
“Penting untuk dicatat bahwa senjata Hamas bukanlah satu-satunya. Hari ini kita berbicara tentang senjata, yang merupakan senjata seluruh rakyat Palestina,” kata Badran.
Ia menambahkan dengan nada tegas, “Senjata dalam kasus Palestina adalah hal yang wajar dan bagian dari sejarah, masa kini, dan masa depan.”
Garis Merah yang Mustahil Dilanggar
Bagi Hamas, senjata yang dimiliki oleh Brigade Qassam dan faksi perlawanan lainnya adalah alat untuk membela rakyat Palestina. Penegasan ini menggarisbawahi mengapa poin pelucutan senjata –salah satu syarat kunci dalam rencana Trump– menjadi garis merah yang sulit, bahkan mustahil, diterima oleh kepemimpinan Hamas.
Badran mengakui, tidak ada pihak yang menyangka perang yang dimulai sejak Oktober 2023 lalu akan berlanjut selama dua tahun. Namun, ia memuji ketahanan perlawanan di Gaza yang tetap mampu bertahan dan melancarkan serangan langsung terhadap pasukan Israel.
Ketika ditanya mengenai kemungkinan pecah perang lagi, Badran menyampaikan harapan, sekaligus ultimatum.
“Kami berharap kami tidak akan kembali perang, tapi rakyat Palestina dan pasukan perlawanan niscaya akan menghadapi dan mengerahkan segenap kemampuan mereka untuk menangkal agresi ini, jika pertempuran ini terpaksa dilakukan,” tegasnya.
Pernyataan ini jelas: kelanjutan gencatan senjata bergantung sepenuhnya pada Israel untuk menahan diri dari agresi lanjutan. Jika Tel Aviv kembali melakukan serangan, Gaza siap menjadi medan tempur lagi.
Sikap keras Hamas ini menjadi tantangan besar bagi KTT Perdamaian Gaza di Mesir yang dipimpin oleh Presiden Trump dan Al-Sisi untuk merumuskan stabilitas jangka panjang. Tanpa adanya kesepakatan tegas mengenai masa depan keamanan, bayang-bayang perang akan terus menghantui Jalur Gaza.














