Huntara Aceh Tamiang Rampung Rabu: Kado Tahun Baru dari Danantara untuk Korban Banjir

Huntara Aceh Tamiang Rampung Rabu: Kado Tahun Baru dari Danantara untuk Korban Banjir

Di atas hamparan lahan milik PTPN, sekitar 15 kilometer dari jantung Kota Kuala Simpang, deru mesin dan dentuman palu tak berhenti menyalak meski malam telah larut. Di tengah sisa-sisa duka akibat banjir bandang dan longsor yang menerjang Kabupaten Aceh Tamiang, Provinsi Aceh, sebuah pemukiman baru tengah lahir dari kegigihan tangan-tangan pekerja.

Ini bukan sekadar proyek konstruksi biasa. Ini adalah ‘operasi senyap’ berskala besar yang dikomandoi oleh Danantara Indonesia bersama Badan Pengaturan (BP) BUMN. Targetnya jelas dan tak bisa ditawar: merampungkan ratusan unit hunian sementara (huntara) sebelum fajar pertama tahun 2026 menyingsing.

post-cover
(Foto: Dok. Hutama Karya)

Konstruksi 24 Jam: Kejar Tayang Demi Kemanusiaan

Memasuki pengujung Desember 2025, PT Hutama Karya (Persero) sebagai pemimpin konsorsium tujuh BUMN Karya resmi mengalihkan persneling ke gigi tertinggi. Pola kerja non-stop 24 jam dengan sistem shifting diterapkan demi memastikan 196 unit Huntara siap difungsikan pada Kamis, 1 Januari 2026.

“Kami mengerahkan seluruh sumber daya secara optimal. Fokus kami adalah percepatan struktur dan utilitas dasar agar hunian ini segera layak huni,” ujar Executive Vice President Sekretaris Perusahaan Hutama Karya, Mardiansyah, Selasa (30/12/2025).

Pengerjaan yang dilakukan secara intensif ini melibatkan ratusan tenaga kerja, mulai dari ahli konstruksi asal Pulau Jawa hingga tenaga lokal yang bahu-membahu merakit fondasi, rangka atap, hingga dinding. Menggunakan desain modular yang praktis namun kokoh, setiap unit berukuran 4,5 x 4,5 meter ini dirancang untuk memberikan privasi dan martabat bagi warga yang berminggu-minggu berdesakan di pengungsian.

post-cover
(Foto: Dok. Hutama Karya)

Sinergi Pelat Merah: Dari Listrik Hingga Internet Gratis

Proyek kemanusiaan ini menjadi bukti nyata kekuatan kolaborasi antar-BUMN. Tak hanya urusan dinding dan atap, aspek kenyamanan dan konektivitas pun menjadi prioritas. Wakil BP BUMN, Aminuddin Ma’ruf, memastikan bahwa warga tidak hanya mendapatkan tempat berteduh, tetapi juga fasilitas penunjang hidup yang memadai.

“Jaringan listrik disokong penuh oleh PLN, dan konektivitas oleh Telkomsel. Hebatnya, selama warga tinggal di Huntara, seluruh biaya listrik dan internet digratiskan,” tegas Aminuddin dalam Rakor Satgas Pemulihan Pascabencana Banjir Sumatera bersama DPR secara virtual, Selasa (30/12/2025).

Saat ini, upaya keras (efforts) terus dikerahkan untuk mengejar target jangka pendek. Meski target total mencapai 15.000 hunian, hingga akhir tahun ini pemerintah berupaya mengejar penyelesaian 500 unit pertama. Angka ini diharapkan menjadi permulaan dari komitmen besar Danantara dan BUMN dalam memulihkan kawasan terdampak.

Dukungan pendanaan pun mengalir deras. Melalui koordinasi Danantara, dana sebesar Rp151 miliar dari pos CSR atau Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) BUMN telah dikucurkan untuk pemulihan pascabencana di seluruh wilayah Sumatera. Pembangunan di Aceh Tamiang hanyalah awal dari target ambisius pembangunan 15.000 unit hunian serupa dalam tiga bulan ke depan.

post-cover
(Foto: Dok. Hutama Karya)

Menyambut Kedatangan Presiden Prabowo

Akselerasi pembangunan ini kian krusial menyusul rencana kunjungan Presiden Prabowo Subianto ke lokasi bencana. Sang Presiden dijadwalkan akan meresmikan langsung penggunaan Huntara tersebut dan berdialog dengan warga terdampak tepat pada hari pertama tahun baru, Kamis (1/1/2026).

Sekretaris Kabinet Letkol Teddy Indra Wijaya mengonfirmasi bahwa penyediaan hunian bagi korban bencana di Aceh dan Sumatera menjadi perhatian serius lintas kementerian. Pesannya jelas: negara hadir secara konkret dan cepat.

post-cover
(Foto: Dok. Hutama Karya)

Memulihkan Urat Nadi Infrastruktur

Selain hunian, Hutama Karya juga bergerak cepat memulihkan infrastruktur publik yang lumpuh. Fasilitas Instalasi Pengolahan Air (IPA) Rantau yang sempat mati total kini telah kembali mengalirkan air bersih dengan kapasitas 40 liter per detik.

Konektivitas wilayah yang terputus pun mulai tersambung kembali. Rehabilitasi Jembatan Lawe Mengkudu di Aceh Tenggara sepanjang 36 meter dan Jembatan Penanggalan sepanjang 48 meter telah tuntas dilakukan. Langkah ini menjadi kunci agar bantuan logistik dan mobilitas warga kembali normal.

Kini, Aceh Tamiang sedang bersiap. Huntara yang berdiri kokoh adalah simbol harapan baru. Di tengah udara dingin pengujung tahun, kerja keras kolosal para pekerja BUMN ini menjadi kado terindah bagi mereka yang kehilangan segalanya dalam terjangan banjir.

Sebagaimana ditegaskan Mardiansyah, “Fokus kami adalah memastikan dampak nyata dirasakan langsung oleh masyarakat.”

Visited 3 times, 1 visit(s) today