PT Hyundai Motors Indonesia (HMID) akhirnya angkat bicara mengenai keluhan yang disampaikan influencer sekaligus konsumen Hyundai Ioniq 5, Aa Juju.
Aa Juju dalam postingannya di TikTok dan Instagram, mengunggah sejumlah keluhan serta kekecewaannya setelah baru meminang Hyundai Ioniq 5 secara tunai.
Head of Brand Interactive PT Hyundai Motors Indonesia Rouli Sijabat menyampaikan permintaan maaf perusahaan atas ketidaknyamanan yang dialami konsumen, khususnya terkait pengalaman layanan purnajual.
“Atas nama Hyundai Indonesia, kami menyampaikan permohonan maaf yang mendalam atas ketidaknyamanan dan situasi yang dialami oleh pelanggan kami, baik terkait pengalaman penggunaan produk maupun layanan dari tim sales dan aftersales kami,” ujar Rouli saat dihubungi, Kamis (20/8/2026). Rouli menambahkan bahwa Hyundai telah menerima masukan dari konsumen dan tengah melakukan pemeriksaan lebih lanjut untuk mengetahui persoalan yang terjadi sekaligus menentukan solusi yang tepat.
“Kami telah menerima masukan tersebut dan saat ini tengah melakukan penanganan serta penelusuran secara menyeluruh untuk memastikan langkah penyelesaian terbaik bagi pelanggan,” jelasnya.
Kronologi
Kasus keluhan konten kreator Aa’ Juju terhadap Hyundai Ioniq 5 yang baru dibelinya secara tunai dari dealer Hyundai Fatmawati menjadi perbincangan hangat di media sosial. Video keluhannya yang diunggah di TikTok dan Instagram pribadi telah ditonton jutaan kali dan memicu respons resmi dari Hyundai Motors Indonesia (HMID). Berikut kronologi lengkapnya.
Alasan Beli: Bisa Parkir Paralel
Sebelum membeli, Aa’ Juju mengaku sudah menyampaikan kebutuhan khususnya kepada sales berinisial “Mba Adele”: mobil yang bisa diparkir secara paralel, karena mobilnya sebelumnya tidak memiliki kemampuan itu. Sales bersangkutan disebut meyakinkan bahwa Ioniq 5 bisa digunakan untuk parkir paralel. Atas dasar itulah, Aa’ Juju akhirnya memutuskan membeli mobil listrik tersebut secara cash dari Hyundai Fatmawati.
Fast Charging Gagal
Tidak lama setelah mobil digunakan, fitur fast charging tiba-tiba tidak berfungsi. Aa’ Juju sempat mendatangi Hyundai Motorstudio di Senayan Park untuk mencari kejelasan, namun pegawai di sana disebut tidak mengetahui penyebabnya. Ia kemudian diarahkan ke SPKLU lain, tetapi masalah tetap tidak terselesaikan. Akibatnya, pengisian daya mobil untuk sementara hanya bisa dilakukan lewat charger AC yang jauh lebih lambat.
Mobil Mogok Total
Keesokan harinya, mobil sama sekali tidak bisa dinyalakan. Teknisi yang datang menemukan bahwa aki (baterai 12V) kendaraan sudah soak dan harus diganti baru.
Menurut teknisi Hyundai, penyebab aki soak adalah kebiasaan memarkir mobil secara paralel — posisi transmisi “N” tanpa rem — dalam waktu lama. Saat kondisi itu, fitur BlueLink dan sejumlah komponen kelistrikan lain tetap aktif menyedot daya dari aki, sehingga aki mengalami overuse hingga habis.
Poin ini menjadi kontradiksi utama dalam kasus tersebut: Aa’ Juju membeli mobil justru karena diyakinkan bisa dipakai parkir paralel, sementara pihak bengkel/teknisi belakangan menyatakan hal itu sebenarnya tidak disarankan untuk durasi lama.
Head Unit Ikut Bermasalah
Masalah berlanjut ketika head unit di dasbor tiba-tiba mati. Teknisi kembali dipanggil, namun dinilai Aa’ Juju kurang kompeten menangani masalah tersebut. Solusi akhirnya ditemukan setelah Aa’ Juju mencari sendiri jawabannya melalui ChatGPT.
Komunikasi dengan Sales Diabaikan
Merasa kecewa, Aa’ Juju mencoba menghubungi nomor sales yang tersimpan sebagai “Hyundai Fatmawati” untuk meminta penjelasan dan solusi. Pesannya disebut tidak mendapat respons yang jelas.
Karena tidak kunjung mendapat solusi lewat pesan, Aa’ Juju akhirnya mendatangi langsung dealer Hyundai Fatmawati untuk meminta pertanggungjawaban. Alih-alih mendapat penanganan yang baik, ia justru terlibat perdebatan dengan seorang Supervisor (SPV) dealer. Dalam video yang beredar, SPV tersebut tampak ikut merekam Aa’ Juju dan berbicara dengan nada tinggi, sembari berdalih bahwa penjelasan teknis mendalam bukan tanggung jawab sales melainkan ranah teknisi.
Aa’ Juju membalas argumen tersebut dengan menekankan bahwa sales adalah pihak yang meyakinkan konsumen sampai berani mengeluarkan uang ratusan juta rupiah, sehingga informasi yang diberikan seharusnya bisa dipertanggungjawabkan.










