Ibu Bunuh Diri dan Racuni Anak di Bandung, Pengamat Sosial Ungkap 4 Fase yang Harus Diwaspadai

Ibu Bunuh Diri dan Racuni Anak di Bandung, Pengamat Sosial Ungkap 4 Fase yang Harus Diwaspadai


Pengamat sosial Devie Rahmawati menyebut peristiwa bunuh diri yang dilakukan oleh seorang ibu rumah tangga di Bandung, Jawa Barat usai diduga meracuni dua anaknya merupakan sebuah tragedi yang memilukan.

“Berita ini menampar nurani kita, bagaimana mungkin seorang ibu yang dikenal sebagai sumber kasih justru menjadi sosok yang merenggut nyawa anaknya sendiri?,” ucap Devie kepada Inilah.com saat dihubungi di Jakarta, Minggu (7/9/2025).

“Pertanyaan itu wajar. Tapi bila kita berhenti hanya pada ‘mengutuk’, kita kehilangan kesempatan untuk memahami akar masalah dan mencegah tragedi serupa terulang,” lanjutnya.

Ia menilai ada hal ini bukan sebuah fenomena yang sederhana. Penelitian ilmiah menyebut peristiwa semacam ini sebagai maternal filicide-suicide atau ibu yang membunuh anaknya lalu mengakhiri hidupnya sendiri.

Di berbagai negara, angka kasus seperti ini mencapai 16–29 persen dari seluruh filisida. “Artinya, ini bukan sekadar ‘kasus’ di Bandung, melainkan fenomena global yang telah diteliti puluhan tahun,” sambungnya.

Lalu mengapa sang ibu bisa sampai mengambil keputusan tersebut? Jawabannya tidak sederhana. Devie lantas mengutip Friedman & Resnick (2007) mencatat pola yang berulang, pertama terkait gangguan mental seperti depresi, atau keinginan bunuh diri.

Kedua, tekanan sosial-ekonomi seperti kemiskinan, isolasi sosial, relasi penuh konflik. Ketiga, beban pengasuhan yakni ibu menjadi primary caregiver (pengasuh tunggal) tanpa dukungan memadai. Dan keempat, fase rentan di mana sepertiga kasus terjadi saat hamil atau setahun setelah melahirkan.

“Kita sering lupa, anak-anak kecil sepenuhnya bergantung pada lingkungan rumah. Mereka tidak bisa melapor, tidak bisa lari mencari pertolongan. Karena itu, kasus seperti di Bandung adalah alarm keras bagi kita semua bukan hanya bagi polisi, peneliti, pemerintah, tapi juga keluarga, tetangga, dan masyarakat,” tegas Devie.

“Mendengar keluhan seorang ibu, menyambut tangisannya tanpa menghakimi, bisa memberikan perbedaan antara hidup dan mati,” tandasnya.

Diberitakan sebelumnya, ibu berinisial EN (34) ditemukan tewas tergantung usai diduga meracuni dua anaknya yang masih berusia 9 tahun dan 11 bulan. Sebuah surat wasiat ditemukan di dinding kontrakan tempat tinggal korban.
    
Surat wasiat itu berupa secarik kertas yang berisi tulisan pilu EN. Isi surat itu menggambarkan jeritan EN dalam menghadapi masalah hidup. Kertas itu menempel di dinding kontrakan EN yang berada di Kecamatan Banjarang, Kabupaten Bandung.

EN ditemukan meninggal di dalam kontrakannya bersama dua anaknya. Polisi mengatakan tidak ada luka yang ditemukan pada ketiga korban.

“Untuk posisi pintu dan jendela dalam keadaan terkunci dari dalam dan tidak ditemukan luka terbuka terhadap para korban,” ujar Kasat Reskrim Polresta Bandung Kompol Luthfi Olot Gigantara, Sabtu (6/9/2025).

Luthfi menjelaskan polisi turut menemukan sebuah ponsel dan secarik kertas yang berisi curahan hati perempuan EN kepada suaminya YS. Kertas tersebut disimpan di dinding ruang tengah. “Barang bukti tersebut kini diamankan untuk penyelidikan lebih lanjut,” ucapnya.

Surat wasiat tersebut ditulis EN dalam bahasa Sunda. Jika diterjemahkan ke bahasa Indonesia, isi pesan di surat itu memuat rasa letih dan frustrasi EN dalam menghadapi masalah dan impitan ekonomi yang diderita keluarganya.

Salah satu bagian di isi surat itu juga memuat pesan EN yang meminta maaf kepada dua anaknya. Dalam surat tersebut, EN menuliskan telah ikhlas walaupun harus masuk neraka dibandingkan melihat kedua anaknya hidup susah.
 

Visited 1 times, 1 visit(s) today