IGRS Wajib di Steam Tuai Kontroversi: Gim Dewasa Dapat Rating 3+, GTA V Terancam Diblokir

IGRS Wajib di Steam Tuai Kontroversi: Gim Dewasa Dapat Rating 3+, GTA V Terancam Diblokir

Ibnu Medium.jpeg

Minggu, 5 April 2026 – 15:53 WIB

IGRS di Steam tuai kontroversi. (Foto: X/@RRdelusi)

IGRS di Steam tuai kontroversi. (Foto: X/@RRdelusi)

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com

+ Gabung

Implementasi wajib Indonesia Game Rating System (IGRS) di platform distribusi digital Steam yang diberlakukan sejak Januari 2026 kini memicu gelombang protes keras dari komunitas gamer dan pengembang gim di Tanah Air. 

Sistem yang awalnya dirancang untuk melindungi anak-anak dari konten kekerasan, seksual, dan narkoba ini justru dinilai penuh dengan kejanggalan akibat klasifikasi umur yang tidak konsisten.

Keresahan publik bermula dari temuan berbagai ketidaksesuaian label batas usia pada judul-judul gim populer di Steam. Gim bernuansa dewasa eksplisit seperti Nukitashi secara mengejutkan justru mendapatkan klasifikasi umur 3+ (aman untuk semua umur). Ironisnya, gim naratif lokal yang sarat akan nilai emosional seperti A Space for the Unbound malah dilabeli 18+ (hanya untuk orang dewasa).

Kekacauan klasifikasi ini semakin memuncak ketika judul-judul mega-hit global seperti Baldur’s Gate 3 dan Grand Theft Auto V (GTA V) dilaporkan ditolak distribusinya secara penuh (refused distribution), yang berarti gim-gim tersebut terancam diblokir dan tidak bisa diakses oleh pemain di Indonesia.

CEO Toge Productions, Kris Antoni, turut menyuarakan kritik tajam terkait ironi dari sistem ini. Pengembang di balik kesuksesan A Space for the Unbound tersebut menilai bahwa mekanisme yang ada saat ini merugikan ekosistem industri gim.

“Sistem Rating Game Indonesia memberi label game dengan konten seksual dewasa sebagai game yang cocok untuk usia 3 tahun ke atas. Sementara game pemenang penghargaan seperti Claire Obscure dan Metal Gear Solid Delta diberi label tidak layak untuk didistribusikan di Indonesia,” ungkapnya di X.

Para kritikus industri menilai bahwa kekacauan ini terjadi akibat proses pengecekan IGRS yang terlalu dangkal dan tidak mengacu pada standar klasifikasi global yang sudah matang, seperti Entertainment Software Rating Board (ESRB) atau Pan European Game Information (PEGI).

Melihat kekacauan ini, komunitas gamer mendesak Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) untuk segera mengevaluasi dan memperbaiki mekanisme rating IGRS. Publik khawatir, jika tidak segera dibenahi, kebijakan yang bertujuan baik ini justru akan memutus akses konsumen Indonesia terhadap ribuan judul gim secara sepihak dan merugikan kreator lokal.

Google

Tambahkan Inilah.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.

Tambahkan Sekarang

Visited 13 times, 1 visit(s) today