Indonesia Siaga 1! BMKG Peringatkan Aktivitas La Niña dan Ancaman Badai Mirip Seroja

Indonesia Siaga 1! BMKG Peringatkan Aktivitas La Niña dan Ancaman Badai Mirip Seroja

Ikhsan Medium.jpeg

Minggu, 2 November 2025 – 00:30 WIB

Kepala BMKG Dwikorita Karnawati ingatkan potensi La Niña lemah dan peningkatan frekuensi siklon tropis mirip Badai Seroja. (Foto: Dok. BMKG)

Kepala BMKG Dwikorita Karnawati ingatkan potensi La Niña lemah dan peningkatan frekuensi siklon tropis mirip Badai Seroja. (Foto: Dok. BMKG)

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com

+ Gabung

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengeluarkan peringatan keras bagi seluruh wilayah Indonesia. Negara bersiap menghadapi potensi ancaman ganda, yakni aktivitas La Niña lemah dan ancaman peningkatan frekuensi siklon tropis yang mirip dengan Badai Seroja, mulai periode November 2025 hingga Maret 2026.

Kepala BMKG Dwikorita Karnawati menjelaskan bahwa pihaknya mendeteksi adanya potensi La Niña lemah yang dipicu perbedaan suhu di Samudra Pasifik dan wilayah kepulauan Indonesia. Kondisi atmosfer juga menunjukkan penguatan angin timuran.

Menariknya, meskipun terjadi La Niña lemah, Dwikorita menyebut curah hujan di Tanah Air secara umum masih dalam kategori normal. Peningkatan curah hujan yang terjadi di sebagian wilayah Indonesia bukan diakibatkan oleh La Niña, melainkan oleh faktor semakin hangatnya suhu muka air laut.

“Bukan berarti curah hujan akan meningkat signifikan. Memang di sebagian Indonesia curah hujannya di atas rata-rata normal. Namun, peningkatan bukan karena La Niña lemah. Namun disebabkan karena semakin hangatnya suhu muka air laut tadi,” jelas Dwikorita dalam konferensi pers, Sabtu (1/11/2025).

Waspada Siklon Tropis Mirip Badai Seroja

Aktivitas paling berbahaya yang patut diwaspadai adalah peningkatan potensi siklon tropis di wilayah selatan Indonesia, mulai November ini. Siklon tropis ini akan secara signifikan meningkatkan risiko cuaca ekstrem, mulai dari angin kencang, hujan deras, hingga banjir bandang.

Wilayah pesisir selatan yang paling terancam meliputi Jawa, Bali, Nusa Tenggara, hingga sebagian Maluku bagian selatan.

Dwikorita secara spesifik menyinggung adanya fenomena yang menyerupai Badai Seroja, siklon yang pernah meluluhlantakkan Nusa Tenggara Timur (NTT) pada April 2021 dan menyebabkan 181 korban jiwa.

“Fenomena semacam Badai Seroja itu pun akan makin meningkat frekuensi kejadiannya di fase bulan November hingga Februari atau bahkan Maret dan April,” ungkapnya, mengingatkan bahwa fase puncaknya terjadi pada November 2025 hingga Februari 2026.

Kepala BMKG Minta Pemerintah dan Masyarakat Siap Siaga

Melihat potensi bencana hidrometeorologi yang akan semakin meningkat, Dwikorita meminta semua pihak –pemerintah daerah hingga masyarakat– untuk segera meningkatkan status kesiapsiagaan.

“Mohon untuk disiagakan bagaimana kita semua siaga menghadapi potensi bencana hidrometeorologi yang akan semakin meningkat di masa-masa puncak musim hujan, bulan November (2025) hingga Februari nanti (2026),” tegasnya.

Dwikorita mengingatkan, Indonesia kerap kena dampak Siklon Tropis, bahkan di luar fase puncak seperti Badai Seroja yang terjadi April. Oleh karena itu, masyarakat diimbau untuk tidak lengah dan aktif memantau setiap peringatan dini yang dikeluarkan oleh BMKG.
 

Topik
Komentar

Visited 3 times, 1 visit(s) today