Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung didampingi jajaran wali kota memberikan arahan kepada seluruh petugas PPSU DKI Jakarta di Taman Ismail Marzuki, Jakarta Pusat, Rabu (15/4/2026). (Foto: Antara)
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com
Jakarta masih punya pekerjaan rumah besar terkait penataan kota. Meski angka kawasan kumuh diklaim menurun drastis, Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung blak-blakan menyebut dua wilayah masih menjadi “titik merah” yang butuh perhatian ekstra: Jakarta Barat dan Jakarta Utara.
Dua wilayah ini dinilai memiliki konsentrasi Rukun Warga (RW) kumuh tertinggi di Ibu Kota, terutama di area-area yang memiliki kepadatan penduduk sangat tinggi.
“Prioritas kami adalah RW di daerah padat penduduk. Yang paling banyak (kumuh) itu ada di Jakarta Barat dan Jakarta Utara,” ujar Pramono di Balai Kota Jakarta, Rabu (6/5/2026).
Soroti Tambora yang Sesak
Pramono memberikan perhatian khusus pada kawasan seperti Tambora di Jakarta Barat. Wilayah yang dikenal sebagai salah satu titik terpadat di Asia Tenggara ini menjadi potret nyata kompleksitas penataan pemukiman di Jakarta.
Ia mengaku telah turun langsung ke lapangan untuk memetakan persoalan.”Memang beberapa di Barat, seperti Tambora. Kami akan segera turun lagi untuk melakukan penanganan lebih intensif,” tegasnya.
Data Akurat
Agar penanganan tidak salah sasaran, Pemprov DKI kini menggandeng Badan Pusat Statistik (BPS) untuk melakukan validasi data.
Kepala BPS, Amalia Adininggar Widyasanti, mengungkapkan bahwa mereka tidak lagi hanya mengandalkan laporan di atas kertas.
“Kami mengombinasikan pendataan langsung dengan teknologi citra satelit. Ini untuk memastikan potret kondisi wilayah benar-benar akurat sebelum intervensi dilakukan,” jelas perempuan yang akrab disapa Widy tersebut.
Tren Menurun, Tantangan Meningkat
Secara statistik, kondisi pemukiman Jakarta sebenarnya menunjukkan tren positif.
Saat ini, jumlah RW kumuh tercatat sebanyak 211 dari total 2.749 RW. Angka ini menyusut lebih dari separuh jika dibandingkan data tahun 2017 yang sempat menyentuh 445 RW.
Pramono mengapresiasi penurunan sebesar 52 persen ini sebagai capaian luar biasa, mengingat jumlah penduduk Jakarta yang terus membengkak.
Namun, ia menegaskan bahwa pemerintah tidak boleh terlena karena tantangan di lapangan justru semakin rumit.
Langkah verifikasi terhadap ribuan RW lainnya akan terus dilakukan untuk memperkuat basis data kebijakan penataan kawasan kumuh agar Jakarta benar-benar menjadi hunian yang layak bagi semua warganya.
Tambahkan Inilah.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.











