Dua kandidat utama yang diprediksi akan bersaing ketat di pemilu Jepang, Sanae Takaichi (64 tahun) dan Shinjiro Koizumi (44 tahun). (Foto: Xinhua/Jia Haocheng)
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com
Jepang akan segera mencatat babak baru kepemimpinan. Hari ini, Sabtu, 4 Oktober 2025, Negeri Sakura dijadwalkan menggelar pemilihan umum untuk memilih Perdana Menteri (PM) baru. Kontestasi politik ini muncul setelah pengunduran diri mendadak Shigeru Ishiba pada awal September lalu.
Pemilu kali ini bukan hanya sekadar suksesi politik biasa. Proses ini disebut-sebut berpeluang besar menciptakan ‘sejarah baru pemimpin di era modern’, terutama dengan munculnya figur-figur yang akan memecahkan rekor.
Dilansir dari Reuters, perhatian publik dan internasional kini tertuju pada dua kandidat utama yang diprediksi akan bersaing ketat. Pertama, ada kandidat perempuan terkuat dari Partai Demokratik Liberal (LDP), Sanae Takaichi yang berusia 64 tahun. Kedua, rivalnya yang tergolong muda dan karismatik, Shinjiro Koizumi, 44 tahun.
Jika Sanae Takaichi berhasil memenangkan pemilu, ia akan resmi menjadi Perdana Menteri perempuan pertama Jepang. Sebaliknya, apabila Shinjiro Koizumi yang menang, ia bakal dinobatkan sebagai pemimpin termuda dalam sejarah politik modern Jepang.
Krisis dan Mundurnya Shigeru Ishiba
Pemilu ini digelar untuk menggantikan Shigeru Ishiba, yang kepemimpinannya berakhir karena tekanan politik besar. Tekanan tersebut muncul setelah koalisi LDP mengalami kekalahan mayoritas dalam dua Pemilu parlemen terakhir.
Kekalahan menyakitkan tersebut dipicu oleh dua faktor utama. Di ranah domestik, masyarakat Jepang resah karena biaya hidup terus melonjak. Sementara di ranah internasional, kebijakan tarif tinggi yang diterapkan Amerika Serikat (AS) telah menimbulkan keresahan ekonomi.
Ishiba mengakui keputusannya mundur demi kebaikan partai dan negara. “Sekarang negosiasi mengenai langkah-langkah tarif AS telah mencapai kesimpulan, saya yakin ini adalah saat yang tepat,” ujar Ishiba pada awal September.
Ia menegaskan pengunduran diri tersebut adalah langkah yang diperlukan. “Saya telah memutuskan untuk mundur dan memberi jalan bagi generasi berikutnya,” imbuh Ishiba, sembari menambahkan bahwa ia ingin menghindari kekosongan pemimpin politik di tengah tantangan berat yang dihadapi Jepang, baik di tingkat domestik maupun internasional.
Ishiba juga sempat menjelaskan bahwa ia ingin bertanggung jawab penuh atas kekalahan LDP pada Pemilu musim panas lalu. Namun, ia merasa wajib menuntaskan negosiasi tarif impor AS terlebih dahulu sebelum meletakkan jabatan.
Saat ini, total ada lima kandidat yang bersiap memperebutkan kursi PM dalam kontestasi Pemilu Jepang besok. Siapa pun yang terpilih, ia akan menghadapi tugas berat untuk menstabilkan ekonomi dan mengembalikan kepercayaan publik terhadap LDP, di tengah bayang-bayang politik AS dan tuntutan publik akan perubahan.














