Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan (Zulhas) saat mendampingi Presiden RI Prabowo Subianto dalam penyampaian pidato pada Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) ke-80 di New York, AS. (Foto: Instagram/@zul.hasan)
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com
Indonesia kembali menunjukkan taji di panggung global. Kali ini, lewat Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan (Zulhas), yang mewakili Presiden Prabowo Subianto di New York, AS. Dalam sebuah forum internasional, Menko Zulhas dengan tegas menyambut baik pembentukan Tropical Forest Financing Facility (TFFF). Inisiatif yang diusulkan oleh Brasil ini dianggap sebagai langkah brilian untuk menjawab masalah klasik: keterbatasan dan ketidakpastian pendanaan bagi pelestarian hutan.
Dalam acara Tropical Forest Forever Facility Solution Dialogue, yang juga dihadiri Presiden Brasil Luiz Inácio Lula da Silva dan Sekretaris Jenderal PBB António Guterres, Menko Zulhas menegaskan posisi strategis Indonesia. “Hutan tropis adalah penopang utama ketahanan iklim global, pusat keanekaragaman hayati, sekaligus sumber penghidupan bagi jutaan masyarakat,” ujarnya, memberikan penekanan pada peran krusial hutan-hutan ini bagi kelangsungan hidup planet Bumi.
Menko Zulhas juga menekankan bahwa tanggung jawab menjaga hutan tropis bukan hanya milik negara yang memilikinya, melainkan merupakan kewajiban moral bersama seluruh komunitas global. Oleh karena itu, Indonesia menyambut baik TFFF karena dinilai mampu menjembatani kesenjangan pendanaan untuk konservasi, restorasi ekosistem, serta pemberdayaan masyarakat adat dan lokal.
Yang paling menarik, menurut Menko Zulhas, adalah pendekatan inovatif TFFF yang menggunakan skema blended finance atau pembiayaan campuran. Skema ini memungkinkan penggabungan sumber daya publik dan swasta.
“Dengan menyelaraskan insentif ekonomi dan tujuan lingkungan, TFFF membuka peluang baru untuk mengintegrasikan konservasi dengan pembangunan,” jelas Menko Zulhas. Sebuah jurus jitu yang menghubungkan keberlanjutan lingkungan dengan kemajuan ekonomi.
Tidak hanya soal pendanaan, Indonesia juga menyoroti pentingnya peran masyarakat adat dan komunitas lokal sebagai pilar utama pelestarian hutan. Menko Zulhas menekankan bahwa hak-hak mereka harus dilindungi dengan safeguard yang kuat.
Menutup pidatonya, Menko Zulhas menegaskan kesiapan Indonesia untuk bekerja sama dengan seluruh pemangku kepentingan. “Indonesia juga menantikan kerja sama yang lebih erat dengan Pemerintah Brasil dalam merumuskan mekanisme dan rencana kerja TFFF,” ucapnya.
Sikap ini menegaskan bahwa Indonesia tidak hanya peduli pada isu pangan, tetapi juga mengambil peran aktif dalam diplomasi iklim global, bahu-membahu dengan Brasil sebagai sesama pemilik paru-paru dunia.














