Konsorsium Miliarder Kuasai TikTok AS: Oracle Pimpin Barisan, Elon Musk tak Diajak

Konsorsium Miliarder Kuasai TikTok AS: Oracle Pimpin Barisan, Elon Musk tak Diajak

Masa depan TikTok di Amerika Serikat (AS) kini berada di tangan sekelompok konglomerat dan entitas investasi papan atas. Sebuah konsorsium yang dipimpin oleh raksasa teknologi Oracle dipastikan menjadi pemilik baru mayoritas operasional aplikasi video pendek tersebut di Negeri Paman Sam.

Laporan dari sumber CNBC International pada Jumat (26/9/2025) menyebutkan, tiga entitas utama yang mengambil alih adalah Oracle, perusahaan ekuitas swasta Silver Lake, dan MGX yang berbasis di Abu Dhabi. Ketiga nama besar ini dilaporkan akan mengendalikan 45 persen saham TikTok AS.

Struktur Kepemilikan Baru: Siapa Pemilik Sejati TikTok AS?

Kesepakatan divestasi ini secara efektif mengubah peta kepemilikan TikTok di AS. Meskipun konsorsium baru memegang porsi terbesar, induk usaha TikTok dari China, ByteDance, masih akan mempertahankan sekitar 19,9 persen saham di anak perusahaannya di AS. Sisanya akan dipegang oleh investor ByteDance lainnya serta pemegang saham baru yang terlibat dalam transaksi ini.

Presiden AS Donald Trump sendiri telah membocorkan sejumlah nama miliarder yang terlibat secara tidak langsung. Beberapa tokoh yang disebut-sebut adalah pebisnis media Rupert Murdoch bersama putranya Lachlan, Ketua Eksekutif Oracle Larry Ellison, dan CEO Dell Michael Dell.

Ellison, khususnya, dikenal sebagai figur kunci yang akan memastikan operasional dan keamanan data TikTok di AS.

Perintah Eksekutif Trump Perpanjang Napas TikTok

Penjualan ini lahir dari tekanan regulasi di Washington. Raksasa teknologi China, ByteDance, diwajibkan untuk menjual operasional TikTok di AS atau menghadapi ancaman pemblokiran total berdasarkan alasan keamanan nasional.

Untuk memuluskan transisi ini, Trump telah menandatangani perintah eksekutif pada Kamis (25/9/2025). Perintah tersebut memberikan dukungan penuh pada kesepakatan ini, sekaligus memastikan TikTok tetap bisa diakses oleh jutaan penggunanya di AS.

Meski demikian, proses divestasi ini sempat molor berkali-kali. Trump diketahui berulang kali menunda batas waktu pelepasan saham, dengan tenggat waktu terakhir yang ditetapkan pada 16 Desember 2025 mendatang. Jika kesepakatan ini berjalan lancar, ini akan menandai berakhirnya keterlibatan operasional ByteDance di AS, dan TikTok akan menjadi perusahaan yang benar-benar dikelola Amerika.

Sinyal Politik dan Investor Utama

Di balik transaksi bisnis bernilai triliunan Rupiah ini, terselip pula nuansa politik. Trump secara terbuka mengakui pentingnya peran TikTok dalam kampanye politiknya untuk mempertahankan kursi pimpinan AS kedua kalinya.

Hubungan Trump dengan aplikasi ini juga terkait erat dengan Jeff Yass, seorang miliarder dan investor Partai Republik. Yass diketahui merupakan salah satu investor utama di ByteDance dan juga pemegang saham di Truth Social, platform media sosial milik Trump.

Sumber lain juga mengisyaratkan bahwa beberapa perusahaan investasi yang telah lama mendukung ByteDance, seperti General Atlantic, Susquehanna, dan Sequoia, diharapkan akan menyumbang pada ekuitas baru TikTok AS, melengkapi daftar investor yang kini mengendalikan masa depan aplikasi populer tersebut.

Kelompok investor baru ini diyakini mampu menjamin keamanan data dan netralitas konten, seperti yang selama ini dituntut oleh pemerintah AS.

Visited 4 times, 1 visit(s) today