Otoritas tertinggi sepak bola dunia, FIFA, Kamis (15/5) waktu setempat menegaskan bahwa para suporter tidak akan dilarang membawa bendera pelangi ke dalam Stadion Lumen Field, Seattle.
Aturan ini tetap diberlakukan untuk laga penentuan Grup G Piala Dunia 2026 antara Mesir dan Iran. Jumat (26/6), meskipun mendapat penolakan keras dari federasi sepak bola kedua negara tersebut.
Keputusan ini memicu perdebatan, mengingat nilai-nilai yang dijunjung oleh negara peserta berbenturan dengan kebijakan inklusivitas penyelenggara dan acara lokal di kota tuan rumah.
Bertepatan dengan Acara Seattle PrideFest
Polemik ini bermula karena laga krusial tersebut bertepatan dengan Seattle PrideFest, sebuah acara tahunan yang diselenggarakan oleh organisasi nirlaba di kota itu sejak tahun 2007. Penyelenggara acara secara sepihak telah menetapkan pertandingan tanggal 26 Juni tersebut sebagai ajang perayaan, jauh sebelum FIFA melakukan pengundian (drawing) Piala Dunia.
Mengetahui hal tersebut, para petinggi federasi sepak bola Mesir dan Iran secara terbuka mengecam keras ide itu. Mereka menilai kegiatan semacam itu sangat bertentangan dengan nilai-nilai budaya dan agama negara mereka.
Pasca-pengundian tahun lalu, Federasi Sepak Bola Mesir bahkan merilis pernyataan resmi yang menyebutkan bahwa mereka telah mengirim surat kepada FIFA yang isinya “menolak secara kategoris segala aktivitas yang berkaitan dengan dukungan terhadap homoseksualitas selama pertandingan.”
Pembelaan FIFA Soal Aturan Inklusivitas Stadion
Meski mendapat tekanan dari dua negara mayoritas Muslim tersebut, FIFA tetap berpegang teguh pada aturan Kode Etik Stadion mereka.
“Piala Dunia FIFA 2026 adalah acara inklusif yang menyambut orang-orang dari berbagai latar belakang,” tulis pernyataan resmi FIFA pada Kamis. “Penggemar dari semua orientasi seksual dan identitas gender dipersilakan hadir di pertandingan dan acara.”
FIFA menambahkan bahwa bendera pelangi dan bendera lain yang mewakili orientasi seksual diizinkan di dalam stadion selama digunakan dengan cara yang konsisten dengan kode etik.
Terkait kekhawatiran Mesir dan Iran, FIFA merujuk pada komentar Presiden FIFA Gianni Infantino pada Januari 2026 lalu. Infantino mengklarifikasi bahwa tidak ada status resmi “Laga Pride” di Piala Dunia.
“Ada pertandingan Piala Dunia FIFA di Seattle, dan pada hari yang sama, acara yang diselenggarakan oleh organisasi eksternal akan berlangsung di kota tersebut. Tetapi itu tidak ada hubungannya dengan pertandingan itu sendiri,” jelas Infantino.
Kontras Tajam dengan Piala Dunia 2022 di Qatar
Keputusan FIFA di Amerika Serikat ini sangat kontras dengan sikap mereka pada Piala Dunia 2022 di Qatar. Saat itu, FIFA dengan gigih membela hak negara tuan rumah agar norma-norma budaya Qatar dihormati sepenuhnya oleh tim tamu.
Pada edisi tersebut, sekelompok federasi Eropa dilarang menggunakan ban kapten “One Love” berwarna pelangi. FIFA dan pejabat Qatar memandang atribut tersebut sebagai bentuk kritik terhadap undang-undang emirat yang mengkriminalisasi hubungan sesama jenis. Bahkan, sejumlah penggemar Wales sempat disita topi pelanginya sebelum memasuki stadion.
Kini, di bawah payung aturan tuan rumah Amerika Serikat, FIFA menerapkan standar inklusivitas yang berbeda, yang mau tidak mau harus diterima oleh tim-tim peserta seperti Mesir dan Iran.










