Krisis Utang Global: 30 Ekonom Peringatkan Negara Berpendapatan Rendah Terancam Bangkrut Pembangunan

Krisis Utang Global: 30 Ekonom Peringatkan Negara Berpendapatan Rendah Terancam Bangkrut Pembangunan

Ikhsan Medium.jpeg

Senin, 13 Oktober 2025 – 23:01 WIB

Lebih dari 30 ekonom terkemuka dunia meluncurkan seruan darurat jelang pertemuan Bank Dunia-IMF, memperingatkan sepertiga negara terperangkap utang yang parah. (Ilustrasi foto: Shutterstock)

Lebih dari 30 ekonom terkemuka dunia meluncurkan seruan darurat jelang pertemuan Bank Dunia-IMF, memperingatkan sepertiga negara terperangkap utang yang parah. (Ilustrasi foto: Shutterstock)

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com

+ Gabung

Sebuah peringatan keras mengguncang komunitas keuangan global. Lebih dari 30 ekonom terkemuka dunia, termasuk peraih Nobel Joseph Stiglitz dan mantan menteri keuangan ternama, mengeluarkan seruan mendesak untuk segera memberikan bantuan utang kepada negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah.

Peringatan ini, yang dirilis menjelang pertemuan tahunan Bank Dunia dan Dana Moneter Internasional (IMF) bulan depan, menyoroti krisis sektor publik akut, terutama di Afrika, di mana utang luar negeri telah menjadi beban yang mencekik.

Mereka dengan tegas menyatakan bahwa negara-negara ini ‘gagal dalam pembangunan’ karena mereka dipaksa terus membayar utang. 

“Situasi ini telah menciptakan dilema moral dan praktis, memaksa pemerintah untuk memilih antara membayar kreditor asing atau menyediakan kebutuhan dasar bagi warga negaranya,” tulis surat seruan itu, dikutip Al Jazeera, Senin (13/10/2025).

Statistik Mengerikan: Kesehatan dan Pendidikan Jadi Korban Utama

Beban utang terlihat jelas dalam statistik yang sangat mengkhawatirkan di Benua Hitam.

Sebanyak 32 negara Afrika saat ini menghabiskan lebih banyak uang untuk membayar utang luar negeri ketimbang untuk mendanai layanan kesehatan. Ini adalah indikasi telanjang bahwa kepentingan para kreditor diutamakan di atas kebutuhan kesehatan masyarakat. Situasi ini, kata para ekonom, adalah ‘situasi yang sangat mengkhawatirkan’.

Tak hanya kesehatan, sektor pendidikan juga menjadi korban utama. Sebanyak 25 negara Afrika mengalokasikan dana lebih besar untuk layanan utang dibandingkan dengan anggaran pendidikan. Konsekuensinya adalah penurunan kualitas dan aksesibilitas pendidikan, yang pada akhirnya menghambat potensi pembangunan jangka panjang di benua tersebut.

Secara rata-rata, pemerintah Afrika kini menghabiskan sekitar 17 persen dari pendapatan negara mereka hanya untuk melayani utang. Persentase yang sangat besar ini secara efektif menguasai keuangan publik, meninggalkan sedikit ruang untuk investasi vital dalam layanan sosial dan infrastruktur.

Dana ini seharusnya dialokasikan untuk sekolah, rumah sakit, aksi iklim, atau layanan penting lainnya, tegas para ekonom tersebut.

Pemotongan Bantuan AS dan Seruan Pembentukan ‘Klub Peminjam’

Krisis pendanaan sektor publik ini semakin diperburuk oleh pemotongan anggaran bantuan internasional. Amerika Serikat (AS), yang dulunya merupakan donor terbesar, telah memotong pendanaannya tahun ini seiring pergeseran prioritas oleh pemerintahan Presiden Donald Trump.

Menurut Komite Penyelamat Internasional (IRC), pemotongan bantuan AS ini berdampak tidak proporsional, di mana sepuluh dari 13 negara yang paling terpukul berada di Afrika. Hal ini memperburuk tantangan fiskal dan mempersulit upaya pemulihan ekonomi.

Sebagai respons, para ekonom mendesak para pemimpin global untuk mengambil tiga langkah berani: mengurangi beban utang, mereformasi cara Bank Dunia dan IMF menilai keberlanjutan utang, dan yang paling inovatif, mendukung pembentukan ‘Klub Peminjam’ (Borrowers’ Club).

Klub ini akan memungkinkan negara-negara yang berutang untuk bernegosiasi secara kolektif dari posisi yang lebih kuat.

“Tindakan berani terhadap utang berarti lebih banyak anak di ruang kelas, lebih banyak perawat di rumah sakit, lebih banyak tindakan terhadap perubahan iklim,” tutup seruan mendesak tersebut.

Topik
Komentar

Visited 4 times, 1 visit(s) today