Ketua Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Mahendra Siregar. (Foto: Antara/Uyu Septiati Liman)
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com
Isu ‘saham gorengan’ kembali menjadi sorotan tajam, kali ini datang langsung dari Menteri Keuangan Purbaya. Menanggapi kritik pedas tersebut, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) melalui ketuanya, Mahendra Siregar, angkat bicara.
Mahendra menegaskan bahwa penanganan isu ini tidak bisa dilakukan secara parsial, melainkan harus ditempuh melalui pendekatan yang komprehensif dan menyeluruh. Fokusnya bukan sekadar mengurus gejolak harga saham semata, tetapi menargetkan peningkatan kualitas fondasi pasar modal Indonesia.
“Kalau saya melihatnya ya ini kan memang suatu perkembangan yang memang harus kita lakukan secara menyeluruh. Yang di satu sisi adalah aspek terhadap peningkatan likuiditas dari pasar modal secara menyeluruh maupun juga likuiditas dari perusahaan-perusahaan emiten yang besar dengan market cap yang besar,” ujar Mahendra kepada wartawan di Hotel Borobudur Jakarta, Senin (13/10/2025).
Likuiditas Pasar: Magnet Utama Investor Asing
Menurut Bos OJK tersebut, likuiditas di pasar modal merupakan kunci utama untuk menarik minat investor besar, terutama investor asing, untuk menanamkan modalnya di bursa Tanah Air.
Mahendra beralasan logis: jika sebuah bursa tidak diisi oleh perusahaan-perusahaan dengan kapitalisasi pasar yang besar (market cap besar), maka investor raksasa akan memiliki keterbatasan akses untuk menempatkan investasi dalam jumlah masif.
Untuk meningkatkan likuiditas secara efektif, OJK mendorong adanya peningkatan jumlah saham yang benar-benar dijual ke publik, atau yang dikenal dengan istilah floating share.
“Floating share, itu diharapkan bisa dapat meningkat baik. Dengan begitu juga maka publik bisa punya akses kepada kepemilikan perusahaan Tbk yang lebih besar lagi,” imbuhnya.
Transparansi dan Kredibilitas: Target Akhir OJK
Langkah meningkatkan floating share dan likuiditas emiten berkapitalisasi besar ini diyakini Mahendra akan menciptakan efek domino positif. Dampaknya akan terasa pada kualitas investasi di pasar modal, mulai dari aspek tata kelola (governance) hingga kinerja emiten itu sendiri.
Dengan demikian, kualitas pasar modal Indonesia akan semakin terjamin. “Dengan begitu aspek transparansi, aspek governance, aspek integritas terhadap kinerja dari masing-masing emiten akan semakin kredibel,” ungkapnya.
Mahendra kembali menegaskan, penyelesaian isu saham gorengan yang disorot Menkeu Purbaya tidak dapat berfokus hanya pada gejolak harga saham saja. Pendekatan yang terlalu sempit justru berpotensi menimbulkan hal-hal yang tidak diinginkan, mengancam kredibilitas dan integritas pasar modal secara keseluruhan.
“Jadi ini satu kesatuan dalam proses untuk kita terus melakukan perbaikan dan sekaligus pendalaman pasar modal,” ujar Mahendra, menggarisbawahi komitmen OJK untuk membangun pasar modal yang sehat, kredibel, dan menarik di mata dunia.














