Sepak bola memang penuh dengan ironi nasib. Kenneth Taylor, gelandang Lazio asal Belanda, kini muncul sebagai kandidat utama untuk menggantikan Xavi Simons di skuad De Oranje untuk Piala Dunia 2026 mendatang. Sebuah pintu yang terbuka justru karena malapetaka cedera serius yang menimpa rekan senegaranya.
Xavi Simons, yang kini berseragam Tottenham Hotspur, dipastikan absen di turnamen akbar tersebut akibat cedera lutut serius. Kondisi yang memaksa pelatih timnas Belanda Ronald Koeman memutar otak mencari alternatif — dan nama Taylor berdiri paling depan dalam daftar pertimbangan.
Adaptasi Mulus di Serie A
Berdasarkan laporan TuttoMercatoWeb, Taylor saat ini menjadi salah satu opsi paling kredibel di mata Koeman. Bergabung dengan Lazio pada Januari lalu, sang gelandang menunjukkan adaptasi yang mengesankan di kompetisi sengit Liga Italia.
Yang membuat profilnya makin menarik adalah versatilitasnya. Taylor mampu bermain di lini tengah maupun di posisi yang lebih ofensif — kemampuan multi-peran yang persis sangat dibutuhkan untuk menambal lubang yang ditinggalkan Simons di skema permainan Koeman.
Performanya bersama Biancocelesti di paruh kedua musim ini menunjukkan ia bukan sekadar pelengkap. Taylor kerap menjadi salah satu pemain kunci di lini tengah Lazio, dengan beberapa gol penting yang mencerminkan naluri ofensifnya.
Persaingan Sengit Empat Pemain Lain
Meski peluangnya terbuka lebar, jalan ke Piala Dunia 2026 tidak akan mulus begitu saja. Beberapa nama bintang sudah dipastikan mengamankan tempat di skuad utama, termasuk Ryan Gravenberch, Frenkie de Jong, dan Cody Gakpo. Hal ini membuat slot untuk pemain di tepi skuad menjadi sangat terbatas.
Taylor harus bersaing dengan sederet nama lain yang juga punya kapasitas mengisi peran ofensif maupun lini tengah. Justin Kluivert, Crysencio Summerville, Guus Til, Noa Lang, hingga veteran Georginio Wijnaldum semuanya masuk daftar pertimbangan Koeman.
Persaingan yang terbilang ketat. Setiap pemain memiliki keunggulan dan kekurangan masing-masing — dan keputusan akhir Koeman akan sangat bergantung pada profil taktis yang ia inginkan untuk skuad Oranje di Piala Dunia.
Comeback Setelah Setahun Lebih Hilang
Pemanggilan Taylor — bila benar-benar terjadi — akan menandai kembalinya sang pemain ke timnas senior setelah absen lebih dari setahun. Penampilan terakhirnya bersama Belanda terjadi pada Maret 2025 dalam laga UEFA Nations League melawan Spanyol.
Dalam dunia sepak bola modern, setahun adalah waktu yang sangat panjang. Banyak pemain kehilangan momentum dan tidak pernah lagi dipanggil setelah absen selama itu. Tapi cedera Simons memberi peluang langka kedua bagi Taylor — dan sang gelandang tampaknya bertekad memanfaatkannya.
Lazio Jadi Etalase Sempurna
Pindah ke Lazio pada bursa transfer Januari ternyata jadi keputusan brilian Taylor untuk masa depan kariernya, baik di klub maupun di timnas. Serie A dikenal sebagai liga paling taktis di Eropa, sebuah panggung yang sempurna untuk membuktikan kemampuan beradaptasi dengan berbagai gaya permainan.
Pelatih Maurizio Sarri yang dikenal punya filosofi permainan jelas — fokus pada penguasaan bola dan transisi cepat — telah memberikan ruang bagi Taylor untuk menunjukkan kelasnya. Setiap penampilannya di kompetisi domestik maupun Eropa kini berperan ganda: untuk Lazio, dan untuk lobi tak langsung kepada Koeman.
Mimpi Piala Dunia di Tangan Sendiri
Dengan absennya Simons yang meninggalkan kekosongan signifikan di skuad Belanda, performa Taylor di sisa musim Serie A bisa menjadi penentu apakah ia akan ikut terbang ke Amerika Utara musim panas nanti.
Bagi pemain berusia 23 tahun yang terlahir di Alkmaar tersebut, ini adalah momen yang dinanti seumur kariernya. Piala Dunia bukan sekadar turnamen — ini adalah panggung impian setiap pemain sejak masih bermain bola di taman-taman kecil saat kecil.
Taylor kini punya tiket ke arah panggung itu di tangan sendiri. Dan dalam beberapa pekan ke depan, setiap menit di lapangan dengan kostum Lazio akan terasa seperti bagian dari audisi terpenting dalam hidupnya.










